Kisah Nabi Adam (Bagian Ke-10) : Surga yang Disinggahi Nabi Adam

Ilustrasi. (Foto : galleryhip.com)

Ilustrasi. (Foto : galleryhip.com)

Syahida.com –  Silang pendapat yang mereka sebutkan terkait surga yang dimasuki Adam, apakah surga di langit ataukah sebuah taman di bumi. Perbedaan pendapat seperti ini baiknya diabaikan.

Menurut pendapat jumhur, surga yang dimaksud adalah yang ada di langit, surga Ma’wa berdasarkan tekstual sejumlah ayat dan hadist, seperti firman Allah SWT, “Wahai Adam! Tinggalah engkau dan istrimu di dalam surga.” (Al-Baqarah: 35).

Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari hadist Abu Malik Al-Asyja’i namanya Sa’ad bin Thariq dari Abu Hazim Salamah bin Dinar, dari Abu Hurairah, juga Abu Malik dari Rib’i, dari Hudzifah, keduanya mengatakan, “Rasulullah SAW, bersabda, ‘Allah mengumpulkan seluruh manusia, lalu orang-orang mukmin berdiri saat surga di dekatkan kepada mereka, mereka menemui Adam lalu berkata, ‘Wahai ayah kami, mintalah agar dibukakan untuk kami.’ Adam berkata, ‘Tidaklah kalian dikeluarkan dari surga melainkan karena kesalahan ayah kalian ini,” dan seterusnya hingga akhir hadist.

Riwayat ini memiliki dalil yang kuat, bagus, dan nyata yang menunjukkan surga yang dimaksud surga Ma’wa, meski masih perlu di diskusikan lebih lanjut.

Yang lain berpendapat, surga tempat Adam berada bukanlah surga Khuldi, karena disana Adam masih diperintahkan untuk tidak memakan buah pohon tersebut, di samping Adam tidur di sana, juga dikeluarkan dari sana. Di samping itu, Iblis bisa masuk ke sana. Surga Ma’wa tentu tidak seperti itu.

Pendapat ini diriwayatkan dari Ubaih bin Ka’ab, Abdullah bin Abbas, Wahab bin Munabbih, Sufyan Al-Baluthi dalam tafsirannya. Mundzir juga membahas persoalan ini dalam sebuah karya tersendiri. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Abu Hanifah dan para sahabatnya. Abu Abdullah Muhammad bin Umar Ar-Razi bin Khatib Ar-Ray menukil pendapat ini dalam tafsirannya dari Abu Qasim Al-Balkhi dan Abu Muslim Al-Ashbahani. Dinukil Al-Qurthubi dalam tafsirannya dari Mu’tazilah dan Qadariyah. Pendapat ini tertera dalam nash kitab Taurat yang ada dikalangan Ahli Kitab.

Di antara ulama yang menuturkan perbedaan pendapat terkait persoalan ini adalah Abu Muhammad bin Hazm dalam karyanya, Al-Milal wan Nihal, Abu Muhammad bin Athiyah dalam tafsirannya, Abu Isa Ar-Rumani dalam tafsirannya yang ia riwayatkan dari jumhur golongan pertama Abu Qasim Ar-Raghib dan Qadhi Al-Mawardi dalam tafsirannya. Al-Wardhi menuturkan, “Diperdebat , apakah yang dimaksud dengan surga yang ditempati Adam dan Hawa. Ada dua pendapat. Pertama: surga Khuldi. Kedua: surga yang telah disediakan Allah untuk keduanya  tempat ujian, bukan surga Khuldi yang disediakan sebagai tempat pemberian balasan.”

Para pengusung pendapat kedua juga tidak sehaluan, mereka berbeda pendapat. Ada yang menyatakan bahwa surga tersebut berada di langit kedua, karena Adam dan Hawa diturunkan dari tempat tersebut. Pendapat ini disampaikan oleh Hasan. Yang lain menyatakan bahwa surga yang dimaksud adalah sebuah taman yang ada di bumi, karena tempat ini Adam dan Hawa diuji dengan larangan untuk memakan buah dari salah satu pohon saja, yang lain tidak. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Yahya. Ini terjadi setelah Iblis diperintahkan untuk sujud kepada Adam. Wallahu a’lam.



Secara eksplisit, Imam Mawardi menyebutkan tiga pendapat, dan dari uraian kata-katanya, terlihat bahwa ia abstain dalam persoalan ini.

Abu Abdullah Ar-Razi dalam tafsirnya menyebut empat pendapat terkait masalah ini. Tiga pendapat seperti disebutkan Imam Mawardi di atas, dan pendapat keempat abstain. Ar-Razi juga menyebutkan pendapat lain, surga yang dimaksud berada di langit, namun bukan surga Ma’wa. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Ali Al-Juba’i. [Syahida.com]

– Bersambung…

Sumber : Kitab Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, Kisah 31 Nabi dari Adam Hingga Isa, Versi Tahqiq  

Share this post

PinIt
scroll to top