Kisah Nabi Adam (Bagian Ke-22) : Masa Tinggal Adam di Surga dan Waktu Dikeluarkannya

Ilustrasi. (Foto : a-az.blogspot.com)

Ilustrasi. (Foto : a-az.blogspot.com)

Syahid.com – Ulama juga berpendapat terkait berapa lama Adam berada di surga. Sebagian berpendapat, sebagian hari seperti hari-hari ukuran dunia. Riwayat marfu’ Muslim dari Abu Hurairah sudah disebutkan sebelumnya, di sana disebutkan, “Adam diciptakan pada saat terakhir hari Jumat. Juga disampaikan sebelumnya, bahwa Adam diciptakan pada hari Jum’at, dan pada hari itu pula Adam dikeluarkan dari surga.”

Jika memang benar hari dimana Adam diciptakan dan dikeluarkan dari surga sama seperti Jumat ukuran dunia, pendapat ini masih perlu dikaji lebih jauh. Dan jika Adam dikeluarkan dari surga pada hari yang berbeda dengan hari ia diciptakan, atau kita katakan bahwa ukuran hari tersebut adalah sama seperti 6.000 tahun untuk ukuran hari-hari dunia, seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Dhahhak, dan dipilih Ibnu Jarir, berarti Adam berada di surga dalam jangka waktu yang sangat lama.

Ibnu Jarir menjelaskan, “Seperti diketahui, Adam diciptakan pada saat terakhir hari Jum’at, yang mana sesaatnya adalah selama 83 tahun 4 bulan. Karena saat Adam masih berbentuk tanah yang berwujud dan ruh belum ditiupkan, ia bertahan selama 40 tahun dalam kondisi seperti itu selanjutnya Adam berada di surga sebelum diturunkan dari sana selama 43 tahun.” Wallahu a’lam.

Abdurrazzaq meriwayatkan dari Hisyam, Hassan meriwayatkan dari Atha bin Abu Rabbah dari Siwar, saat Adam diturunkan (dari surga), kedua kakinya berada di bumi sementara kepalanya berada di langit. Allah kemudian menyusutkan bentuk fisik Adam menjadi 60 hasta. Atsar serupa juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas.

Riwayat di atas perlu dicermati lebih jauh, karena disebutkan dalam hadist Muttafaq’alaih dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, Allah menciptakan Adam dengan panjang 60 hasta, lalu bentuk fisiknya terus menyusut hingga sekarang.” Ini menunjukkan, Adam diciptakan dengan panjang 60 hasta, tidak lebih dari itu. Sementara bentuk fisik keturunannya terus mengalami penyusutan hingga saat ini.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Allah SWT berfirman, “Wahai Adam! Sungguh, Aku memiliki Tanah Haram tepat sejajar dengan Arsy-Ku, maka pergilah lalu bangunkan sebuah rumah untuk-Ku disana, lalu kelilingilah rumah itu seperti para malaikat mengelilingi Arsy-Ku.’ Allah kemudian mengutus seorang malaikat kepada Adam, memberitahukan tempatnya, mengajarkan manasik-manasik padanya, dan menyampaikan padanya bahwa setiap ayunan langkah kaki Adam menjadi ibadah yang mendekatkan diri pada-Nya setelah itu.”

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, makanan pertama yang dimakan Adam di bumi berawal dari Jibril. Jibril datang dengan membawa tujuh biji gandum. Adam bertanya, “Apa ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah pohon yang dilarang untuk kau makan, lalu kau makan.’ ‘Apa yang harus aku lakukan dengan biji-bijian itu?’ tanya Adam. ‘Tanamlah di bumi,’ jawab Jibril. Adam kemudian menanam biji-bijian gandum tersebut. Berat setiap bijinya lebih dari berat seratus ribu (biji gandum dunia). Gandum kemudian tumbuh, Adam lalu memanennya, setelah itu Adam menebahkan (memisahkan kulit dan isi) biji-biji gandum kemudian menampi, setelah itu ia tumbuk, membuat adonan dan ia jadikan roti, kemudian setelah melalui jerih payah yang cukup melelahkan, Adam memakannya. Itulah firman Allah SWT, ‘Maka sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, nanti kamu celaka.’. (Thaha: 117).

Pakaian pertama Adam dan Hawa berasal dari bulu domba. Adam menggerus bulu-bulu domba lalu ia tenun dan dibuat jubah untuk ia kenakan, serta baju panjang dan kerudung untuk Hawa.

Ulama juga berbeda pendapat, apakah Adam dan Hawa punya anak di surga? Menurut salah satu pendapat , keduanya hanya punya anak di bumi. Yang lain menyatakan, Adam dan Hawa punya anak disurga, Qabil dan saudarinya termasuk anak-anak yang dilahirkan di sana. Wallahu a’lam.

Ulama menyebutkan, setiap kali melahirkan, Hawa melahirkan sepasang lelaki dan perempuan dengan saudara kembar saudarinya. Tidak halal saudara perempuan menikah dengan saudara lelaki yang lahir bersamaan. [Syahida.com]

– Bersambung…

Sumber : Kitab Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, Kisah 31 Nabi dari Adam Hingga Isa, Versi Tahqiq 

Share this post

PinIt
scroll to top