Khadijah Binti Khuwailid, Shohabiyah yang Dijamin Masuk Surga (Bagian ke-1): Wanita Suci yang Penuh Berkah & Kebaikan

Ilustrasi. (Foto : iwandahnial.wordpress.com)

Ilustrasi. (Foto : iwandahnial.wordpress.com)

Syahida.com – Sebuah hadits menyebutkan bahwa malaikat Jibril as, datang kepada Nabi saw, dan berkata, “Sampaikanlah salam dari Allah dan dariku untuk Khadijah. Kabarkan juga kepadanya bahwa tersedia untuknya sebuah rumah di surga yang terbuat dari berlian. Di dalam rumah itu, tidak ada kegaduhan dan rasa lelah.”

Hadits lain menyebutkan bahwa Nabi saw bersabda: “Wanita surga yang paling mulia adalah Khadijah binti Khuwailid.”

Penuh kesucian dan keberkahan. Itulah yang kita rasakan, saat kita berada ditengah lembaran sejarah ibunda kita, Khadijah binti Khuwailid bin Asad Al-Qurasyiyah Al-Asadiyah, istri Rasulullah saw.

Tidak satupun dari kita yang mampun menuliskan tentang dia sesuai dengan kemuliaan atau keistimewaan yang dimilikinya. Tetapi, tidak ada salahnya jika kita berusaha mengambil manfaat dari kehidupannya yang penuh kebaikakn dan keberkahan.

Khadijah ra, tumbuh sebagai gadis yang baik dan berbudi. Dia dikenal sebagai wanita suci, terhormat dan sempurna, hingga dijuluki “at-thahirah” (yang suci).[1]

Khadijah adalah wanita suci. Julukan ini tentu saja satu kemuliaan besar yang penuh keberkahan, karena zaman itu adalah zaman yang keji dan kotor. Zaman yang tidak menghargai wanita sama sekali.

Khadijah ra, dilahirkan di Ummul Qura, 68 tahun sebelum hijrah; dan kurang lebih 15 tahun sebelum tahun Gajah.[2] Ibunya bernama Fathimah binti Zaidah bin Asim, seorang wanita dari suku Quraisy bani Amir bin Luai. Ayahnya bernama Khuwailid bin Asad bin Abdul uzza, seorang bangsawan Quraisy yang meninggal pada peristiwa Fijar.

Khadijah ra, pernah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi[3]. Setelah Abu Halah meniggal dunia, ia menikah dengan Atiq bin Abid Al-Mahzumi[4]. Setelah Atiq meninggal dunia, ia menikah dengan Rasulullah saw.



Ketika Khadijah berdampingan dengan Rasulullah saw, kemuliaan dan kebaikannya semakin memancar. Para wanita Mekah, bahkan para wanita seluruh dunia, tidak ada yang bisa menandingi kemuliaan dan kebaikannya.

Rasulullah saw bersabda: “Cukuplah bagimu dari para wanita dunia: Maryam binti ‘Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad dan Asiyah istri Fir’aun.”[5] [

Bagi para wanita mekah, Khadijah merupakan simbol kemuliaan, kehormatan, dan kekayaan. Dia memiliki jaringan perdagangan yang cukup luas. Dia bekerja sama dengan orang-orang yang ia percaya, dengan bagi hasil yang disepakati. Khadijah juga dikenal memiliki pandangan yang kuat dan naluri yang kuat. Saat itu, ia sudah mengenal Muhammad bin Abdullah; seorang pemuda yang dikenal sebagai al-amin (terpercaya), dan masih memiliki hubungan kerabat dengan pemuda itu. Silsilah nasab keduanya bertemu di kakek buyut yang bernama Qushay bin Kilab. Khadijah mengikuti semua berita tentang Muhammad. Dan semuanya adalah berita menakjubkan.

Saat itu, akhlak dan sifat Muhammad saw, mengharum dimanapun; memikat semua orang, tidak terkecuali Khadijah. Karena itulah ia ingin agar Muhammad menjalankan perniagaannya. Ia mengirim pesan kepadanya: “Saya berharap engkau mau menjalankan perniagaanku, karena aku mendengar engkau orang yang jujur, bisa dipercaya, dan berkahlak mulia. Aku akan memberikan bagi hasil yang lebih banyak dibandingkan kepada orang lain.”

Muhammad saw menerima tawaran itu. Ketika Abu Thalib (paman Muhammad) mengetahuinya, ia mengatakan kepada Muhammad, “Ini adalah rezeki dari Allah.”

Abu Ja’far ath-Thabari, Ibnu Katsir dan Ibnu Sayyidinaas menyebutkan dari Mu’ammar, bahwa Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata: “Ketika Rasulullah menginjak dewasa, dan belum banyak harta, Khadijah menyuruhnya ke pasar Hubasyah yang berada di Tuhamah, disertai seorang Quraisy lainya. Muhammad saw, berkata tentangnya, ‘Aku belum pernah menjumpai majikan sebaik Khadijah. Setiap kami pulang, ia selalu menyediakan makanan untuk kami.”

Khadijah merasakan kejujuran dan kemuliaan akhlak Muhammad saw, sehingga menambah bagi hasilnya.

Ketika Muhammad saw, berusia 25 tahun, ia pergi ke Syam ditemani seorang pemuda bernama Maisarah untuk berdagang. Barang dagangannya laku keras dan menghasilkan untung yang banyak, dua kali lipat dari yang pernah dihasilkan Khadijah sendiri. Setelah pulang ke Mekah, ia melaporkan semuanya secara jujur kepada Khadijah. Ternyata, perjalannya ke Syam yang penuh kebaikan dan keberkahan ini berdampak baik dalam kehidupan Muhammad saw.

Di Mekah, Maisarah menceritakan apa yang ia lihat dari sosok Muhammad saw. dari sisi kelembutan budi pekertinya, teman yang enak diajak kerjasama, dan orang yang selalu mengutamakan kejujuran. Termasuk juga tanda-tanda kenabian yang ia saksikan. Selain menceritakan kepada orang banyak, Maisarah juga menceritakannya kepada Khadijah. Mendengar cerita itu, khadijah sangat senang, bahkan di hatinya ada harapan yang kelak menjadikannya bahagia di dunia dan di akhirat. [Syahida.com]

[1] Usul Ghabah, no. 6867, Al-Ishabah: (4/473), dan Al-Isti’ab: (4/27I).

[2] Tahun Gajah bertepatan tahun 556 M.

[3] Al-Isytiqaq, hlm 142, 208

[4] Usudh Ghabah, no 6867.

[5] Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas bin Malik ra, Jami’ul Usul: 9/125

—–

Bersambung….

 

Sumber : Kitab 20 Sirah Shohabiyah yang Dijamin Masuk Surga, Ahmad Khalil Jum`ah

Share this post

PinIt
scroll to top