Beginilah Cara Malaikat Maut Mencabut Nyawa

Ilustrasi. (Foto : unic77.net )

Ilustrasi. (Foto : unic77.net )

Syahida.com – Salah satu malaikat utama yang lainnya selain jibril, mikail, dan israfil adalh malikat maut. Malaikat ini memang selalu dikaitkan dengan kematian, semua orang bakal berurusan dengan malaikat yang satu ini. Sehingga nampaknya kaum muslimin perlu mengenal lebih lanjut tentang figur malaikat ini, sebelum dia bertemu kepada kita, sehingga kita siap secara mental manakala malaikat maut mendatangi kita dan bersiap pula dengan bekal terbaik yang harus kita bawa. Dengan malaikat lain mungkin kita tidak akan bertemu, tetapi dengan malaikat maut semua manusia pasti akan bertemu, dengan pasrah maupun dengan keterpaksaan.

Tentang Namanya

Masyarakat Islam pada umumnya mengenal malaikat ini sebagai malaikat Izrail. Tetapi tidak ada rujukan bahwa malaikat ini bernama izrail, Allah SWT pun selalu menyebutnya dengan Malaikat Maut. Jika pun ada hadits yang menyebut Izrail, kami lebih mantap menyebut ‘Malaikat Maut’.

Tentang caranya menjalankan tugas

Berkenaan dengan cara Malaikat Maut menjalankan tugasnya, ada beberapa penjelasan dari Al-Qur’an dan sunnah tentang bagaimana cara malaikat ini mengambil nyawa manusia. Orang kafi dan munafik akan berbeda caranya dengan orang yang beriman.

Malaikat Maut akan mencabut nyawa orang-orang kafir dan munafik dengan cara memukul muka dan punggung mereka. Bagaimanakah rasa sakitnya? Hanya Allah SWT yang tahu. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya hamba yang kafir dalam riwayat lain hamba yang fajir (banyak berbuat dosa)-ketika hendak berpisah dengan dunia untuk menghadap akhirat turun kepadanya malaikat dari langit, mereka kasar dan berwajah hitam membawa gombalan kasar dari neraka, mereka duduk sejauh pandangan mata dari si hamba. Kemudian datanglah malaikat maut duduk disamping kepalanya dan berkata: “Wahai jiwa yang jelek keluarlah menuju kemurkaan dan laknat Allah.” Beliau mengatakan: “Maka ruhnya bercerai berai dari dalam badannya, ditarik seperti ditariknya sebatang besi yang bercabang kiri dan kanannya dari kain yang membungkusnya. Maka terputuslah karenanya urat-urat dan sarafnya. Maka setiap malaikat antara langit dan bumi melaknatnya juga semua malaikat yang ada di langit, maka dikunci seluruh pintu langit dan setiap penjaga pintu langit berdoa kepada Allah agar ruh itu tidak melewati pintu yang dijaganya. Maka diambillah ruhnya dan tidak dibiarkan ditangannya walaupun sebentar segera dimasukkan ke dalam gombal(kain jelek) neraka. Dan keluarnya ruh dari badannya berbau busuk seperti bau bangkai yang ada di muka bumi. Maka ruhnya dibawa naik dan tidak melewati sekelompok malaikat kecuali mereka berkata; “Ruhnya siapa yang jelek ini?” Malaikat mengatakan; “Ruhnya si fulan bin fulan” dengan menyebutkan nama yang jelek yang dinamakan di dunia, sampai berhenti di langit dunia dan meminta dibukakan pintunya, maka tidak dibukakan pintunya. Dan beliau membaca: ‘mereka tidak dibukakan pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum.’ Maka Allah berfirman: “Tulislah catatannya di sijjin yaitu di bumi yang paling bawah” kemudain dikatakan: “Kembalikanlah dia ke bumi. Karena aku telah menjanjikan pada mereka, sesungguhnya dari tanah mereka diciptakan, ke dalam tanah mereka dikembalikan dan dari dalam tanah mereka akan dibangkitkan sekali lagi.” Maka dilemparlah ruhnya dari langit dengan keras sampai kembali ke jasadnya, kemudian beliau membaca ayat “Barangsiapa yang syirik kepada Allah maka mereka seperti terlempar dari langit dan disambar burung atau dibawa angin ke tempat yang jauh.” Kemudian dikembalikan ruhnya ke jasadnya. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya mereka bisa mendengar hentakan kaki saudaranya yang mengantarnya ketika mereka berpaling hendak pulang.” (HR. An-Nasai)

Sementara itu, malaikat maut akan mencabut nyawa orang-orang yang beriman dengan cara yang baik dan santun. Mereka akan disambut, disambut dengan ucapan salam dan doa seerta dipersilahkan memasuki surga Allah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda;

“Sesunguhnya setiap hamba yang mukmin apabila akan berpisah dengan dunia untuk menghadap Akhirat maka turun Malaikat dari langit, wajahnya putih seperti matahari, mereka membawa kafan surga dan pewangi surga, mereka duduk sejauh pandangan mata, kemudian datang malaikat maut duduk di dekat kepala hamba orang mukmin dan berkata: ‘Wahai jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah.’ Beliau berkata: maka keluarlah ruhnya seperti keluarnya air dari mulut kendi, maka diambilnya ruh itu. Dan tidak dibiarka walaupun sebentar di tangannya, tetapi langsung diambil malaikat pembawa kafan untuk dibungkus kafan dan pengawet dari surga tadi. Keluarnya ruh itu seperti hembusan misik terharum yang ada di muka bumi. Kemudian, mereka membawa naik ruh itu dan tidak melewati sekelompok malaikat kecuali mereka bertanya: ‘Ruhnya siapa yang sangat baik ini?’ mereka menjawab ‘Ruhnya si fulan bin fulan’ dengan meyebutkan namanya yang baik yang dinamakan dengnanya di dunia. Kemudian berhenti dilangit dunia dan mereka meminta dibukakan pintunya maka mereka dibukakan pintunya dan para malaikatikut mengantarkan ruh itu  sampai langit diatasnya sampai berhenti ruh itu di langit ke tujuh. Maka Allah berfirman: ‘Tulislah catatan hambaKu di Illiyin.’ Kemudian dikatakan: ‘Kembalikanlah di ake bumi, karena sesungguhnya dari bumi (tanah) pertama Aku ciptakan mereka dan kedalam tanah mereka dikembalikan dan dari tanah sekali lagi mereka akan dikeluarkan. Beliau bersabda; ‘Maka dikembalikanlah ruh itu pada jasadnya’” (HR. An-Nasa’i)

Kita sering lalai dan salah dalam mengambil prioritas. Untuk sebuah ketidak-pastian hidup, kita para manusia membuat perencanaan yang demikian rumit dan hati-hati. Tetapi pada saat yang sama, dimana kita dihadapkan kepada kenyataan yang musti terjadi, justru manusia tidak pernah bersiap-siap. Apalagi membuat perencanaan yang matang untuk itu. Dan kenyataan yang pasti terjadi itu adalah pertemuan kita dengan malaikat maut dalam moment yang disebut dengan: KEMATIAN. Apakah yang telah kita rencanakan? [Syahida.com]

Sumber : Kitab Jejak Malaikat di Bumi, M Hilal Tri Anwari  

Share this post

PinIt
scroll to top