(Video) Dr. Zakir Menjawab Pertanyaan Sulit Seorang Atheis Dengan Bagus

Syahida.com – Dr. Zakir Naik berasal dari India. Ia adalah penerus sang guru, Ahmed Deedat. Ia total terjun di dunia dakwah dan berhenti dari profesi sebagai Dokter Medis. Dr. Zakir Naik telah meng-Islam-kan puluhan ribu orang. Ingatan Dr. Zakir Naik, sungguh luar biasa, ia bukan hanya mampu menghafal Alquran dan Shahih Bukhari Muslim, tapi juga menguasai kitab weda, tripitaka, bhagavad gita. Ia memiliki harapan yang sama dengan Ahmed Deedat, yaitu menggelar Debat Terbuka dengan Paus Paulus langsung di markasnya Vatikan-Roma! Berikut ini adalah salah satu video dialognya dengan Seorang Atheis :

Penanya : “Halo Dr. Zakir Naik. Namaku Harris dari Phoenix, Arizona, AS. Aku seorang wirausahawan dan manager marketing. Dua temanku di Amerika telah masuk Islam karena menonton video Youtube tentangmu. Salah satu dari mereka orang Kristen, salah satu dari mereka Atheis. Salah satu temanku memberikan kepadaku DVD-mu “How to Deal with an Atheist” yang telah kutonton.

Tapi itu tidak menjawab pertanyaanku. Dan aku telah bertanya tentang ini kepada banyak orang tapi tidak ada jawaban yang memuaskan, semua orang yang cerdas. Dari semua ulama yang pernah kutonton di Youtube, menurutku kaulah yang paling rasional, masuk akal, mudah dipahami yang pernah kutemui sepanjang hidupku. Dan sangat penting pertanyaan ini untuk dijawab karena aku tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan ini. Pertanyaanku seperti koin dengan kedua sisinya.

Sisi pertama adalah ini: Inilah pertanyaannya. Aku berada di antara Atheis dan Agnostik, aku tidak yakin berada dimana. Tuhan telah menciptakan seluruh jagat raya dan Qur’an berfirman banyak hal tentang berapa hari penciptaannya, gunung-gunung, ini dan itu, hidup adalah ujian dan seterusnya. Pertanyaanku adalah: Jauh sebelum Tuhan menciptakan keseluruhan jagat raya ini, sebelum dia memutuskan untuk menciptakan manusia, sebelum dia memutuskan untuk mengutus Nabi Muhammad, atau Adam dan Hawa, bahkan jauh sebelum Dia berencana untuk melakukan semua ini, Dia sudah tahu hasil akhirnya. Dia tahu pada akhirnya Dia akan kecewa dengan orang-orang tertentu dan Dia akan melempar mereka ke dalam neraka. Dia tahu mereka akan dibakar, Dia tahu mereka akan disiksa, dan disitulah mereka akan bertaubat atas kesalahan mereka. Jauh sebelum Dia menciptakan seluruh jagat raya, Dia tahu bahwa hasilnya akan menjadi buruk. Ini mungkin baik bagi orang-orang yang ada di surga, tapi Dia tahu bahwa Dia bisa menyelamatkan orang-orang yang akan masuk neraka, bahkan jauh sebelum Dia memutuskan untuk menciptakan. Tapi tetap saja Dia memutuskan untuk menciptakan mereka dengan segala logika Ketuhanannya. Kenapa Dia melakukan itu?

Kesimpulan dari pertanyaannya adalah: Bagaimana mungkin Tuhan begiitu sadis, sehingga Dia tetap melanjutkan rencana-Nya padahal Dia tahu rencana-Nya berakhir seperti itu? Itulah sisi koin pertama.

Sisi koin yang kedua adalah: Untuk suatu alasan jika aku percaya bahwa…Oke, Tuhan Maha Kuasa dan segala tentangnya sungguh Agung. Tuhan Maha Besar. Kenapa Tuhan memaksa dalam Qur’an, (Dia berfirman): ‘Lihatlah gunung-gunung, lihatlah proton, elektron, ini dan itu, semuanya begitu sinkron, betapa mengagunkannya diri-Ku.’ Kenapa Dia memaksa kita untuk merasa takjub pada ciptaan-Nya sedangkan hal itu mudah bagi-Nya? Maksudku, Dia hanya perlu mengatakan ‘Kun’ dan selesai perkara. Jadi mengapa seakan-akan ini hal besar, ketika Tuhan menciptakan seluruh jagat raya ini begitu menakjubkan. Karena bagi Tuhan itu sangat mudah, jadi aku tidak merasa begitu kagum pada ciptaan-Nya, Dia bisa melakukan hal-hal yang jauh melebihi ini. Jadi aku tidak mengerti kenapa Dia ingin agar manusia menghormati apa yang telah Dia lakukan atau merasa kagum dengan yang Dia lakukan?”

Dr. Zakir : “Saudara kita menanyakan pertanyaan yang sangat bagus dan pertanyaan yang sangat cerdas. Dan dia telah melihat sebagian videoku di Youtube tentang Ateisme, dan pertanyaan yang mengganggunya…dia belum mendapatkan jawabannya. Saudara ini bertanya bahwa Tuhan mengetahui segalanya. Sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, sebelum Dia menciptakan manusia, sebelum Nabi Muhammad SAW datang kesini, Dia sudah tahu segalanya. Jika Dia tahu sebagian orang akan masuk surga, mayoritas orang akan masuk neraka, jadi kenapa Dia menciptakan manusia? Bukankah ini sadis? Itulah pertanyaan dasarnya, benar?”

Penanya :  “Benar.”

Dr. Zakir : “Aku akan menjawab pertanyaan kedua nanti. Saudara, mayoritas akan masuk neraka………”

(dipotong oleh penanya)

Penanya : “Bahkan meskipun hanya satu orang saja masuk neraka, hal itu tidak masuk akal. Dia seharusnya bisa menghindari hal itu. Dia seharusnya bisa menghindari kekecewaan-Nya.”

Dr. Zakir :  “Tentu saja. Aku akan menjawab. Saudara berkata bahwa meskipun satu orang masuk neraka, sama saja Tuhan akan kecewa. Tuhan tidak pernah kecewa sama sekali. Sekarang untuk menjawab pertanyaanmu. ‘Aku sekolah dan kau mungkin pernah mendengar kata sekolah’. Jika seorang guru memberikan ujian, jika dia adil, ketika dia sedang memberikan ujiannya, dia menulis di kertas ujiannya, ‘Berapakah 2+2?’ Murid yang ada di hadapannya menulis, ‘5’. Gurunya bisa saja berkata pada muridnya ‘Ubahlah 5 menjadi 4.’ Apakah gurunya adil jika pada saat ujian dia membetulkan jawaban muridnya?”

Penanya :  “Dia punya pilihan bahwa muridnya tidak perlu menjalani ujian itu.”

Dr. Zakir : “Tidak, tidak, tidak, aku menanyakan sebuah pertanyaan sederhana kepadamu. Sang guru telah menuliskan pertanyaannya pada kertas ujian…”

Penanya : “Dalam kasus itu kau benar. Untuk situasi seperti itu…”

Dr. Zakir : “Untuk situasi seperti itu, gurunya bisa memberitahu ‘Muridku, ubahlah 5 menjadi 4.’ Bagaimana pendapat murid-murid yang lain?”

Penanya : “Tidak adil.”

Dr. Zakir :  “Benar.”

Penanya : “Tapi Tuhan bisa menjadi adil pada saat bersamaan. Dia bisa menciptakan kondisi yang sepenuhnya berbeda, Dia tidak perlu menjalani situasi seperti itu, Dia tidak dibatasi oleh situasi apapun.”

Dr. Zakir : “Saudara berkata: Tuhan bisa menciptakan sesuatu yang sempurna dan tidak salah. Benar?”

Penanya : “Benar.”

Dr. Zakir : “Tuhan menciptakan hal itu, Dia menciptakan para malaikat. Tuhan menciptakan malaikat yang tidak pernah menentang perintah Tuhan. Tapi manusia adalah ciptaan yang lebih baik daripada malaikat. Para malaikat tidak punya kehendak sendiri. Jika kau telah mendengarkan videoku, jika tidak, aku akan memberitahumu sekarang, malaikat adalah ciptaan Tuhan tapi bukanlah ciptaan terbaik. Tuhan menciptakan manusia. Manusia punya kehendak bebas untuk menentang Tuhan atau mengikuti Tuhan.

Jika kau memilih menjadi manusia, jika kau menentang perintah-Nya kau masuk neraka, jika kau mematuhi perintah-Nya, kau lebih baik daripada malaikat. Karena malaikat tidak punya kehendak bebas dari diri sendiri, maka mereka mengikuti Tuhan, dan ini tidak hebat. Manusia adalah ciptaan yang lebih baik. Tuhan telah memberikan kehendak bebas. Ini adalah pertanyaan yang berbeda bahwa Tuhan mengetahui…karena Dia punya ilmu tentang masa depan. Dia jauh lebih unggul. Jadi Dia telah menciptakan makhluk yang punya kehendak bebas. Kesalahannya ada pada manusia, bukan Tuhan.”

Penanya :  “Tidak, tapi Tuhan menciptakan kita dengan kesalahan itu. Dan Dia tahu bahwa Dia bisa…”

Dr. Zakir :  “Bukan kesalahan. Bukan kesalahan yang diciptakan, melainkan kehendak bebas.”

Penanya :    “Kenapa Dia memberikan kita kehendak bebas sedangkan Dia tahu bahwa Dia pada akhirnya akan menempatkan banyak orang di neraka? Kenapa Dia tidak melakukan sesuatu..”

Dr. Zakir : “Itu adalah ciptaan yang berbeda. Apakah kau mau menciptakan sesuatu yang bisa berpikir sendiri atau kau ingin..”

(perkataan dipotong penanya)

Penanya :  “Kenapa seseorang bisa begitu penyayang..”

Dr. Zakir : “Saudara, itulah yang ingin kuberitahu. Tentang yang kau permasalahkan, Tuhan telah menciptakan para malaikat. Aku bertanya padamu, mana yang lebih baik? Para malaikat yang mengikuti perintah Tuhan atau manusia yang mengikuti perintah Tuhan? Mana yang lebih baik?”

Penanya :  “Bagiku, tentu saja, jika aku punya kesempatan, aku ingin menjadi malaikat. Kenapa juga aku mau mengambil resiko…”

Dr. Zakir : “Kesempatan kedua. Benar! Itulah mengapa Tuhan berfirman dalam surat Al-A’raaf [7]: 172. Bahwa Tuhan telah mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah berfirman: ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka semua setuju. Tuhan berfirman dalam surat Al-Hashr [59]: 21. Jika sekiranya Tuhan mewahyukan Qur’an pada gunung, maka gunung itu akan runtuh. Tuhan berfirman pada surat Al-Ahzaab [33]: 72. Bahwa manusialah yang bodoh karena mengatakan ‘Kami ingin menjadi manusia’, kau dan aku. Kau dan aku bodoh. Sekarang kau tidak bisa mundur. Sekali kau mengajukan diri untuk menerima ujiannya, sekali kau membaca kertas ujiannya…….” 

(perkataan dipotong penanya)

Penanya :  “Tidak ada yang bertanya padaku. Mereka bertanya pada Adam dan Hawa.”

Dr. Zakir : “Tidak saudara. Qur’an berfirman, ‘Setiap manusia ditanya,’ kemudian ingatan itu dihilangkan. Sebelum kita diciptakan jadi manusia, Tuhan berfirman dalam Al-Qur’an, ‘Apakah kau ingin menjadi manusia? Jika kau menjadi manusia, kau bisa mengungguli para malaikat, atau bisa lebih hina. Jika kau tidak mau menjadi manusia, maka tidak apa-apa’.”

Penanya :   “Bahkan dengan argumenmu……….” 

(perkataan dipotong Dr. Zakir)

Dr. Zakir : “Saudara kumohon biarkan aku menyelesaikannya. Kau bertanya..”

Penanya :  “Baik, silahkan.”

Dr. Zakir :  “..maka aku harusnya menjawabnya.” (sambil tersenyum)

Penanya : “Tentu, silahkan.”

Dr. Zakir : “Jadi Tuhan bertanya pada manusia dan Qur’an berfirman kita sebagai manusia adalah bodoh. Kau dan aku bodoh. Kita bodoh karena memilih mengikuti ujiannya. Sekarang, ketika kau sudah ikut ujiannya, jika kau mengikuti perintah Tuhan atas kehendak bebasmu maka kau akan lebih mulia daripada malaikat, jika kau menentang Allah, kau menjadi lebih rendah daripada malaikat. Kita ingin melewati ujiannya dengan keunggulan, kau dan aku.

Kau berkata ‘Aku tidak ingat.’ Tentu saja kau tidak akan ingat. Bahkan aku juga tidak ingat. Tapi aku percaya pada Qur’an. Pada hari kiamat, Tuhan berfirman, ‘Tidak ada satu manusia pun yang menentang pengadilan Tuhan.’ (Al-Mu’minun [23]: 99-100). Kau akan tahu pada hari kiamat. Satu-satunya yang kita katakan adalah ‘Tolong beri kami kesempatan’, dan Tuhan berfirman, ‘Sudah terlambat.’ Jadi jika kau ingin mendapatkan kesempatan baru, maka kau harus kembali ke dunia lagi, begitu juga setiap orang. Jadi orang-orang yang gagal, dia tidak bisa hanya mendapat kegagalan, jadi Tuhan berfirman, ‘Tidak satupun manusia yang menentang keputusan Allah’, mereka akan meminta ‘Allah, berikan kami satu kesempatan lagi’, tapi Tuhan berkata ‘Sudah terlambat.’ Tuhan telah memberikan kita kesempatan di dunia. Jika kau berbuat salah, Allah memberikanmu kesempatan untuk memohon ampun. Kau bertaubat dan Allah memaafkanmu. Dan kau berbuat salah lagi…begitu seterusnya. Ketika kau mati, tidak ada kesempatan lagi.

Jadi berkenan dengan pertanyaanmu, kenapa Tuhan menciptakan manusia? Karena ini adalah ciptaan yang lebih baik. Setiap orang yang rasional, termasuk kau, harus setuju bahwa makhluk yang punya kehendak bebas adalah ciptaan yang lebih baik daripada makhluk yang tidak punya kehendak bebas. Hanya saja pertanyaanmu bahwa kau tidak ingat, kau sangat benar. Ketika kau mati dan dibangkitkan, pada saat itu kita akan berkata ‘Aku ingat.’ Bahkan sekarang aku tidak mengingatnya.

Tapi percayalah pada Qur’an, karena Qur’an tidak pernah salah, karena secara ilmiah..jika kau mendengar ceramahku bahwa 80% Qur’an sesuai 100% dengan ilmiah. 20% masih ambigu, tidak benar dan juga tidak salah. Jadi logikaku berkata, ketika 80% itu semuanya 100% benar, dan bahkan tidak 0,01% dari yang 20% itu salah, jadi logikaku mengatakan bahwa yang 20% ini pasti juga benar. Aku adalah orang ilmiah, kau orang yang menggunakan logika, jadi aku percaya pada pernyataan Qur’an, bahwa kita memilihnya. Jika kau tidak memilihnya maka kau boleh mempertanyakan Tuhan: ‘Kenapa kau menjadikan aku sebagai manusia?’ Maka Tuhan akan disalahkan. Tapi Tuhan berfirman dalam Qur’an bahwa kita ditanya. Gunung saja ketakutan, semuanya ketakutan tapi kita sebagai manusia memilihnya.”

Penanya : “Tapi apakah kau ingat pernah ditanya? Aku tidak ingat pernah ditanya.”

Dr. Zakir :  “Saudara, jika kau mendengar jawabanku, bahkan aku tidak ingat. Tapi jika kau mengingatnya, dimana ujiannya? Bahkan jika seorang guru mengajarkan sesuatu kepadamu, kemudian sang guru memberikanmu bukunya. Gurumu berkata ‘Kau tidak boleh buka buku ketika ujian.’ Jika guru itu berkata ‘Oke, buka saja bukunya dan jawablah ujiannya.’ Maka dimana ujiannya?”

Penanya : “Oke, tapi mengapa…”

Dr. Zakir :  Setelah ujiannya berakhir, kau bisa memeriksa dari bukunya atau tidak?”

Penanya :  “Tapi bahkan sebelum ujiannya, Tuhan tahu hasil akhirnya..”

Dr. Zakir :   “Saudara, saudara, dengarkan aku. Setelah ujiannya berakhir, kau bisa memeriksa dari bukunya atau tidak?”

Penanya : “Tentu saja.”

Dr. Zakir : “Tapi saat ujian, bolehkah kau buka buku?”

Penanya :  “Tidak.”

Dr. Zakir :  “Jadi sekarang ujiannya sedang berlangsung saudaraku. Ketika ini sudah berakhir kau bisa memeriksanya.” (para penonton tersenyum)

Penanya : (Mengangguk)

Dr. Zakir : “Jika kau berkata, ‘Guru, aku ingin melihat dari bukunya, aku tidak ingat’ ‘Tidak bisa’. Pada saat ujian, kau tidak bisa mengecek buku pelajaran, itu namanya menyontek. Benar?”

Penanya :  (mengangguk pelan)

Dr. Zakir : “Jadi ketika ujiannya sudah berakhir, jika kau tidak ingat, kau katakan pada Tuhan ‘Kenapa ini tidak masuk akal?’ Tapi Tuhan berfirman ‘Tidak satupun manusia akan menentang pengadilan Tuhan.’ Aku adalah orang ilmiah, aku orang berlogika, berdasarkan pengetahuanku pada ilmiah, berdasarkan logikaku, ketika aku membaca kitab-kitab lain dan membaca Qur’an, aku lihat bahwa Qur’an adalah satu-satunya kitab agama di muka bumi yang melewati ujian-ujiannya.

Jadi dengan begitu aku, yang merupakan orang ilmiah, yang merupakan orang berlogika, aku setuju dengan Qur’an ‘Pernyataan Qur’an ini pasti benar’. Aku tidak ingat, itulah ujiannya. Jika aku ingat maka dimana ujiannya? Jadi itu menjawab bagian pertama dari pertanyaannya. Bagian pertama yang menjawab bahwa Tuhan itu sadis. Tuhan tidak sadis. Sebagai contoh, aku masuk universitas medis. Aku ingin anak-anak sekolah ikut sekolah medis. Berapa banyak anak-anak sekolah yang akan masuk universitas medis? Hanya sebagian, bukankah begitu? Hanya sedikit. Tentu lebih kecil dari 5%. Atau mungkin hanya 1%. Jadi kenapa hanya 1% yang bisa masuk ke kampus? Memang karena ini diperuntukkan untuk orang-orang terpilih. Begitu juga Tuhan menciptakan surga, surga Firdaus. Tidak setiap orang bisa masuk surga Firdaus.”

Penanya : “Kenapa tidak?”

Dr. Zakir :  “Maaf?” 

Penanya :  “Kenapa tidak?”

Dr. Zakir : “Kenapa tidak setiap orang bisa masuk universitas medis?”

Penanya :  “Karena kapasitas manusia. Jika manusia mampu dan punya pengetahuan untuk masuk kuliah,  maka mereka bisa masuk.”

Dr. Zakir : “Tepat. Itulah alasan kita diciptakan. Begitu juga, setiap orang bisa menjadi dokter. Hanya mereka yang punya kapasitas. Begitu juga, tidak setiap orang bisa masuk surga Firdaus, tingkat surga yang tinggi. Kita harus berusaha. Tuhan telah memberikanmu kapasitas. Jika kau tidak mengikuti petunjuk-Nya maka kau tidak bisa (masuk surga). Jika kau mengikuti petunjuk-Nya untuk masuk surga, maka ini sangat mudah. Jika kau cerdas, maka sangat mudah. Jika kau cerdas dan jujur kepada dirimu sendiri. Tapi jika kau tidak jujur pada diri sendiri, bahkan orang-orang yang tidak cerdas bisa masuk surga. Satu-satunya hal adalah kau harus jujur.

Tuhan telah memberikan berbagai pilihan padamu tentang bagaimana cara mematuhi-Nya. Sebagian orang menganggap dirinya pintar, aku memberitahukan mereka bahwa mereka ekstra pintar. Jika mereka pintar, mereka akan melihat bahwa ini sangat jelas. Sejelas hitam dan putih bahwa ini adalah firman Tuhan. Dan kau harus mengikuti-Nya. Itulah alasan mengapa Francis Bacon berkata ‘Sedikit pengetahuan menjadikanmu seorang Atheis. Pengetahuan yang mendalam menjadikanmu seorang yang beriman pada Tuhan.”

Jadi aku tidak akan mengatakan bahwa Tuhan itu sadis, aku.., katakan kitalah yang bodoh karena telah memilih untuk mengikuti ujiannya. Bukan Tuhan. Tuhan telah memberikanmu pilihan. Apa yang kita inginkan, kitalah yang memilihnya. Jadi, kitalah yang bertanggung jawab, bukan Tuhan. Tuhan tidak sadis, kitalah yang bodoh. Itulah yang difirmankan Qur’an. Pada hari kiamat kau akan tahu, Insya Allah, kita berdua. Insya Allah jika aku masuk surga, Insya Allah, insya Allah, aku berdo’a kepada Tuhan dan bersyukur pada-Nya bahwa ‘Aku adalah orang baik dan aku memilih menjadi manusia.’ Jika kita gagal, maka kita hanya menghancurkan diri sendiri. Semoga itu menjawab pertanyaanmu.”

Penanya : “Dan bagian kedua?”

Dr. Zakir : “Maaf, apakah bagian keduanya?”

Penanya : “Bahwa meskipun aku percaya betapa kuasanya Dia dan betapa tinggi ilmu-Nya, kenapa Dia begitu memaksa kita untuk meyakinkan kita ‘Lihatlah gunung-gunung, lihatlah elektron, lihatlah proton’.”

Dr. Zakir :  “Pertanyaan kedua adalah Kenapa Tuhan memberikan referensi tentang gunung-gunung, bahwa Dia telah menciptakan ini, bagi-Nya ini mudah. Jadi kenapa Dia berfirman seperti ini? Kau tahu apa yang difirmankan-Nya? Dia berfirman ‘Benda yang kuciptakan dengan mudah ini, gunung-gunung akan runtuh, dan kau sebagai manusia lebih unggul, jadi kenapa kau tidak memahami?’ Qur’an berfirman dalam surat Al-Hashr [59]: 21Seandainya Qur’an diwahyukan kepada gunung, maka gunung akan runtuh.’

Tapi bagi kita manusia, tidak ada pengaruhnya. Dia memberikan contoh untuk menunjukkan bahwa benda-benda yang begitu kuat, gunung yang telah diciptakan Tuhan pun tunduk, maka kenapa manusia tidak? Dia mencoba memberikan contoh bahwa kita ini bodoh. Dia tidak mencoba memuji diri-Nya sendiri, dan kapanpun kita mengatakan misalnya ‘Allahuakbar (Allah Maha Besar)’, apakah kau pikir ini akan mengubah Allah? Tidak. Saudaraku, mau kau mengucapkan Allahuakbar ribuan kali atau jutaan kali, Dia tidak bisa menjadi lebih besar karena Dia sudah Maha Besar.

Alasan kita mengucapkan hal-hal ini karena sifat manusia kita, bahwa kita mengikuti orang-orang terkenal, kita mengikuti orang-orang yang kita puji. Misalnya ibumu terkena serangan jantung. Ada orang tak dikenal di jalan yang memberikan pengobatan. Dan kau mendengar bahwa spesialis jantung terbaik di dunia adalah Dr. X. Sekarang, apakah kau mendengarkan nasihat Dr. X atau orang di jalan yang tidak kita ketahui?”

Penanya : “Dr.X.”

Dr. Zakir : “Kenapa? Karena Dr.X terkenal. Orang-orang kenal dengannya, dia yang terbaik di dunia. Jadi alasan kenapa dalam shalat, dalam hidup kita mengucapkan Allahuakbar (Allah Maha Besar), Allah Maha Bijaksana, Allah Maha Berilmu, kenapa? Hal ini tidak bermanfaat bagi Allah. Hal ini bermanfaat bagi kita. Bahwa jika kita memuji-Nya maka kita mengikuti-Nya. Jika kita mengikuti-Nya maka kita akan ke surga, bagi Allah ini tidak ada artinya. Dengan begitu Allah berfirman ‘Apakah kamu masih tidak percaya? Apakah kamu masih tidak memahami?’ Itu artinya Qur’an diwahyukan kepada manusia agar mereka memahaminya. Jadi Dia memberikan contoh-contoh ini bukan untuk membuat diri-Nya Maha Besar, karena dari dulu Dia sudah Maha Besar. Entah kau mengucapkan jutaan kali, Allah sudah Maha Besar. Hal ini tidak ada manfaatnya bagi Allah. Dia memberitahukannya padamu.

Allah berfirman dalam Qur’an bahwa ‘Allah tidak membutuhkanmu, kaulah yang membutuhkannya’ (Faatir[35]: 15). Jadi ketika kita memuji-Nya dan ini bagian dari psikologi manusia, bahwa orang yang kau puji, orang yang kau agungkan, maka kau cenderung mengikuti nasihatnya. Dengan mengikuti nasihatnya, hal ini tidak bermanfaat bagi-Nya, melainkan bermanfaat bagimu. Dia dari dulu sudah Maha Besar, Dia dari dulu sudah Maha Penyayang. Jadi ini adalah aturan yang diturunkan, Dia Pencipta kita jadi Dia tahu jalan pikiran kita.

Jadi alasan Dia berfirman tentang ini…misalnya kau adalah murid ilmu pengetahuan, benar? Aku juga murid ilmu pengetahuan. Pada saat aku mengetahui bahwa Allah mewahyukan fakta-fakta ilmiah yang baru kita ketahui di zaman sekarang, maka hal ini menambah keimananku pada Allah. Allah berfirman dalam surat Fussilat [41]: 53Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.’ Jadi Allah memberikan contoh-contoh ini karena bermanfaat bagi kita. Ini tidak bermanfaat bagi-Nya. Ini bermanfaat bagi kita sehingga Dia memberikan kita kesempatan untuk mengikuti-Nya sehingga kita masuk surga. Semoga itu menjawab pertanyaanmu saudara.”

Penanya :  “Aku mengenali kekuatan-Nya dan aku mengerti bahwa Dia luar biasa, dan seterusnya atas apa yang dilakukan-Nya. Tapi apakah aku harus takjub atas pencapaian-Nya menciptakan alam semesta ini? Karena bagiku, Dia menciptakannya begitu mudah.”

Dr. Zakir : “Benar. Jadi bagi-Nya ini sangat mudah, ketika Dia memberitahumu jangan minum khamr…..”

(perkataan dipotong penanya…)

Penanya :  “Aku tidak minum khamr…tapi apakah aku harus takjub dengan ciptaan-Nya?”

Dr. Zakir :  “Tidak, faktanya adalah Dia tidak mencoba membuktikan bahwa Dia hebat, jika kau percaya bahwa bagi-Nya ini sangat mudah, jadi apakah seseorang akan berbohong? Tidak. Jadi jika Dia berkata ‘Jangan minum khamr’, maka kau tidak akan mempertanyakannya. ‘Jangan makan babi’, kau tidak mempertanyakannya.”

Penanya : “Tapi kau tidak takjub dengan ciptaan-Nya, karena bagi-Nya ini sangat mudah.”

Dr. Zakir :  “Dibandingkan dengan kita, hal ini luar biasa. Bagi-Nya ini tidak ada apa-apanya.”

Penanya :  “Benar.”

Dr. Zakir :  “Tapi dibandingkan kita, Tuhan yang bisa menciptakan jagat raya, ketika Dia memerintahku jangan minum khamr, aku langsung mematuhinya.”

Penanya :  “Aku mungkin mematuhi-Nya, tapi apakah harus takjub dengan ciptaan-Nya seperti yang difirmankan dalam Al-Qur’an?”

Dr. Zakir : “Dengarlah, kau bertanya ‘Apakah aku harus takjub pada ciptaan-Nya?’.”

Penanya :  “Benar.”

Dr. Zakir : “Aku berkata: Jika aku percaya bahwa manusia adalah makhluk-Nya yang lebih baik, maka aku takjub dan aku mengucapkan Alhamdulillah karena Dia telah menciptakanku lebih baik dari itu. Jadi aku takjub karena Dia menciptakan gunung-gunung dan binatang. Dia menciptakan matahari, aah…tapi Dia juga menciptakan Zakir Naik. Dia menciptakan manusia. Dan kita adalah ciptaan terbaik.

Jadi Dia memberikan contoh-contoh ini. Sehingga kita menyadari betapa banyak yang telah diberikan-Nya kepada kita. Semua karunia-Nya telah diberikan kepada kita. Dia berfirman tentang ilmiah, proton, gunung-gunung dan pada akhirnya Dia berfirman ‘Manusia adalah ciptaan terbaik.’ Jadi dalam perbandingannya, kita harus setuju bahwa Sang Pencipta menciptakan jasad ini, molekulnya, DNA-nya, hal-hal rumit, yang tak mungkin tercipta dengan sendirinya.

Jadi kita takjub dengan penciptaan manusia dan kemudian kita tunduk pada-Nya. Jika kau tidak takjub..hanya dengan perasaan takjublah kita tunduk. Dia Pencipta kita, Dia pantas disembah. Tidak ada orang lain yang bisa melakukan itu. Ini sehingga kita menyembah-Nya dan kita melalui ujian-Nya dan kita masuk surga. Semoga itu menjawab pertanyaanmu.”

Penanya : “Jika Bill Gates memberikanku $100 dollar, apakah aku harus takjub bahwa dia telah memberikanku uang segitu?”

MC (pembawa acara) :  “Kurasa pertanyaannya sudah dijawab dan sayangnya kita dibatasi waktu, kau diizinkan untuk datang lagi besok, Insya Allah bersama dengan saudara/saudari lainnya, kita telah sampai pada akhir pertemuan malam ini, jadi tolong…..”

(Tapi Dr. Zakir memberi kesempatan menjawab pertanyaan tersebut)

Dr. Zakir :  “Aku akan memberikan jawaban bahwa jika Bill Gates memberikanmu uang $100…”

Penanya : “Apakah aku harus takjub?”

Dr. Zakir :  “Apakah kau harus takjub? Saudara, pertanyaannya adalah: Kenapa Bill Gates harus memberikanmu $100? Jika orang biasa yang memberikanmu $100, kau tidak perlu takjub. Tapi BILL GATES, memberikanmu $100…Inilah yang diberikannya kepadamu, kenapa dia memberikannya padamu, kenapa tidak kepada orang lain? Kenapa? Pertanyaan adalah, kenapa dia memberikanmu?”

Penanya :  “Oke.” (mengangguk)

Dr. Zakir :  “Jika orang biasa atau orang yang tak kau kenal di jalan memberikanmu $100..(itu hal biasa) tapi BILL GATES! (tentu hal luar biasa)”

Penanya :  (Sambil tersenyum) “Benar..”

Dr. Zakir :  “Kau sudah mengerti?”

Penanya :  “Itulah jawabannya! Benar! Aku paham sekarang.” (dengan wajah senang).

Dr. Zakir :  “Jadi sekarang kau puas?”

Penanya : “Ya, jelas sekali. Itulah jawabannya!” (dengan wajah senang)

Dr. Zakir : “Jadi Insya Allah kuharap bahwa kau akan lebih dekat kepada Islam.”

Penanya : “Jadi seharusnya aku tidak takjub karena dia memberikanku uang, aku harus takjub karena DIALAH yang memberikan uangnya.”

Dr. Zakir :  “Alhamdulillah!” (sambil tersenyum)

[Syahida.com]

Share this post

PinIt
scroll to top