Amalan Agar Isteri Makin Sayang (Bagian ke-6): Menjadi Teladan

Ilustrasi. (Foto : heavy-stuff.com)

Ilustrasi. (Foto : heavy-stuff.com)

Syahida.com – Kepemimpinan seorang kepala keluarga yang baik tidak pernah dapat dipisahkan dengan keteladanan. Suami adalah pemimpin bagi istri dan anak-anaknya, sehingga setiap tindak tanduk, perkataan dan perbuatannya akan menjadi perhatian bagi istri dan anak-anak. Suami dituntut untuk dapat menjadi teladan di setiap keadaan sebagai konsekuensi dari predikat ‘pemimpin keluarga’. Ketika dalam keadaan bahagia atau sedih, lapang atau sempit, apapun keadaan yang sedang dialami, hendaknya seorang kepala keluarga tetap berusaha menunjukkan wajah ceria dengan disertai senyuman, ucapannya berisi nasihat dan kebaikan, serta tindakannya bisa dijadikan sebagai tuntunan. Figur suami yang demikian akan menjadi suri teladan bagi istri dan anaknya.

Keteladanan adalah bentuk nasihat yang sangat baik. Nasihat dalam bentuk ucapan memang memegang peranan yang sangat baik. Namun, akan lebih tepat dan lebih mengenal sasaran manakala nasihat itu terlebih dahulu dilakukan oleh si pemberi nasihat, dalam hal ini suami. Suami wajib membentuk dirinya menjadi berkarakter shalih, baru kemudian ia akan mampu membimbing istrinya menggapai predikat shalihah dan menjadikan anak-anaknya sebagai generasi yang beriman dan bertakwa.

Suami yang menghendaki istrinya shalat fardhu tepat waktu, maka dia juga harus mencontohkan dengan kesepian mendatangi masjid untuk menunaikan shalat berjamah. Seorang ayah menginginkan anak-anaknya membiasakan diri tilawah Al-Qur’an, maka dia juga juga harus memaksakan dirinya agar terbiasa melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an di rumahnya. Kebiasaan baik yang dilakukan oleh seorang kepala keluarga akan dilihat oleh istri dan anak-anaknya, kemudian mereka pun akan tergerak hatinya untuk mengikuti kebiasaan baik tersebut.

Jangan pernah seorang suami berharap kebaikan ada pada diri istrinya, namun dia sendiri enggan melakukan kebaikan atau justru menjauh darinya. Sama seperti seorang ayah yang melarang anaknya merokok, sementara dia sendiri tidak malu merokok di hadapan anaknya. Ia seperti seorang pengangguran yang berharap memiliki uang banyak, sedang dirinya hanya berdiam saja di rumah tanpa berusaha melakukan suatu pekerjaan.

Keteladanan seorang pemimpin adalah pendidikan baik bagi orang-orang yang dipimpinnya. Imam Syafi’i pernah memberi wasiat kepada seseorang yang mendidik anak-anak dari Khalifah Harun Al-Rasyid dengan mengatakan, “Hendaklah pertama kali yang engkau ajarkan untuk memperbaiki anak-anak Amirul Mukminin adalah memperbaiki dirimu, karena mata mereka itu terpikat denganmu. Apa yang baik menurut mereka adalah segala yang engkau anggap baik, dan apa yang buruk menurut mereka adalah segala yang tidak engkau kerjakan.”

Marilah kita memperhatikan perkataan Imam Syafi’i di atas, khususnya kalimat terakhir, “…apa yang buruk menurut mereka adalah apa-apa yang engkau tinggalkan.” Beliau tidak berkata, “…apa yang buruk menurut mereka adalah apa yang engkau katakan kepada mereka bahwa itu buruk.” Beliau ingin menunjukkan bahwa mendidik seseorang tidak sekedar dengan lipstik kata, tetapi juga diperlukan bukti nyata perbuatan yang dapat diteladani.

Seorang penyair bertutur tentang keteladanan melalui sebait syairnya:

Wahai yang menjadi guru orang lain,



Perhatikanlah dirimu, sebab ia pun butuh pengajaran,

Engkau tentukan obat untuk sakit agar dia menjadi sehat,

sedangkan engkau sendiri dalam derita.

Mulailah dari dirimu sendiri, cegahlah dirimu dari penyimpangan.

Jika ia telah bersih darinya, maka kaulah si bijak itu,

Yang akan didengar setiap katanya dan dicontoh semua perilakunya

Saat itulah, pengajaranmu memberi arti

Demikian pula peringatan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bagi orang yang mengajak kepada kebaikan, tetapi orang tersebut tidak melaksanakan kebaikan itu, maka ia akan dilemparkan ke dalam neraka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jelaskan:

Pada hari kiamat, akan didatangkan seseorang lalu dilemparkan ke neraka, lalu berhamburlah isi perut dan ususnya. Dia berputar-putar mengelilingi isi perutnya laksana berputarnya keledai mengelilingi batu penggilingan. Ia ditanya, ‘Apa yang terjadi pada dirimu, padahal dahulu kamu suka memerintahkan kita untuk berbuat ma’ruf dan mencegah kita dari kemungkaran?” Ia menjawab, ‘(Memang) dahulu aku suka memerintahkan kamu berbuat kebaikan, tetapi aku sendiri tidak melakukannya, dan aku juga suka melarang kamu berbuat kemungkaran, tetapi aku sendiri melakukannya’.”[1] [Syahida.com]

  1. Bukhari dan Muslim

Sumber: Kitab Asadullah Al-Faruq (24 Jam amalan agar Istri makin sayang)

Share this post

PinIt
scroll to top