Ada Wanita Lain yang Begitu Suamiku Perhatikan…

Ilustrasi. (Foto : mizyuso.deviantart.com)

Ilustrasi. (Foto : mizyuso.deviantart.com)

Syahida.com – “Ada wanita lain yang begitu ia perhatikan, mengalahkan perhatiannya pada diriku.”

Hal ini terjadi karena suami tidak menjaga pandangan (ghaddhul bashar). Solusinya adalah bertakwa kepada Allah. orang yang bertakwa akan menundukkan pandangannya dari wanita nonmahram dan melihat istrinya sebagai wanita tercantik di dunia. Seseorang yang matanya jelalatan ke sana kemari tidak akan puas dengan istrinya dan tidak ridha dengan apa yang ada pada diri istrinya. Ini berbahaya karena bisa menjadi faktor hancurnya bangunan kehidupan rumah tangga.

Akibat dari bencana ini adalah pengkhianatan suami terhadap istrinya. Itu merupakan tindakan pengkhianatan suami terhadap istrinya. Itu merupaka tindakan paling keras dari suami dalam menyakiti istri. Karena istri telah memberikan kehidupan, kecantikan dan masa mudanya kepada suaminya. Setelah itu semua, suami malah berpaling darinya hanya karena sebab sering melihat wanita lain.

Solusinya adalah:

1.Bertakwa kepada Allah

Menghadirkan perasaan selalu diawasi Allah. Merasa bahwa Allah selalu melihatnya di setiap waktu dan tempat hal ini akan menjadikannya takut berbuat maksiat. Muhammad bin Ali At-Tirmidzi berkata, “Jadikanlah muraqabah (peraasaan selalu diawasi) untuk Zat yang tidak ada satupun yang tersembunyi dari penglihatan-Nya.”

Amir bin Abdi Qais berkata, “Setiap melihat sesuatu, aku melihat Allah lebih dekat darinya.”

2. Menahan (menundukkan) pandangan.

Manfaat menundukkan pandangan adalah:

a.Realisasi perintah Allah yang merupakan puncak tertinggi kebahagiaan seorang hamba. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba selain melaksanakan perintah bagi seorang Rabb-nya. Seorang akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat hanya dengan melaksanakan perintah-perintahNya. Sebaiknya, ia akan celaka bila meremehkannya.

b. Menghalangi pengaruh panah setan ke dalam hati.

c. Menimbulkan ketentraman bersama Allah. tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi hati selain mengumbar pandangan. Sebab, ia dapat mewariskan keliaran antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

d. Menguatkan hati dan menjadikan gembira. Sebaliknya, mengumbar pandangan dapat melemahkan dan menjadikan hati sedih.

e. Mendatangkan cahaya bagi hati. Sebaliknya, mengumbar pandangan dapat mendatangkan kegelapan bagi hati. Allah berfirman:

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…’” (An-Nur: 30)

Selanjutnya Allah berfirman:

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.” (An-Nur: 35)

Allah menjadikan cahaya di dalam hati hamba-Nya yang beriman, yang melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jika seseorang telah tersinari, ia akan menerima kebaikan. Jika cahaya itu redup, pemiliknya akan menjadi seperti orang buta yang mencari sesuatu di kegelapan pekat.

f. Mewariskan ketajaman firasat. Dengan itu pemiliknya dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk dan antara yang jujur dan yang dusta.

Menurut Syuja’ Al-Kirmani, siap yang memenhui lahirnya dengan mengikuti sunah, batinya dengan selalu muraqabah, menahan pandangannya dari yang haram, menahan diri dari hal-hal syubhat (samar), dan makan makanan halal, niscaya firasatnya tidak pernah salah.

Allah memberi balasan amal sesuai dengan jenis amalannya. Oleh karena itu, siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah pasti akan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik. Jika ia menahan pandangannya dengan sesuatu yang lebih baik. Jika ia menahan pandangannya dari yang diharamkan Allah, Dia pasti akan menggantinya dengan membebaskan cahaya bashirah (mata hatinya). Selain itu, Allah juga akan membukakan pintu ilmu, iman, makrifat, dan firasat yang benar dan tepat untuknya. Semua itu hanya bisa diperoleh melalui bashirah, mata hatinya.

Sedangkan kebalikan dari bashirah adalah kebutaan. Allah menggambarkan dengan keadaan kaum Luth.

“Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).” (Al-Hijr: 72)

Allah menyifati kerusakan akal dengan kemabukan dan kerusakan bashirah dengan terombang-ambing.

g. Melahirkan keteguhan, keberanian, dan kekuatan di dalam hati. Dengan begitu, Allah akan mengumpulkan dominasi kemenangan dan hujjah. Dalam sebuah atsar dijelaskan, “Setan akan pergi meninggalakn bayangan orang yang menentang hawa nafsunya, seperti yang dikatakan Al-Hasan, “Sesungguhnya mereka, meskipun bighal mengeluh keras kepada mereka dan kuda meringkik kepada mereka. Jika kehinaan maksiat telah membelenggu leher-leher mereka, Allah enggan, kecuali untuk menghinakan orang yang bermaksiat kepada-Nya.”

Allah telah menjadikan kemuliaan terkait dengan ketaatan dan kehinaan terkait dengan kemaksiatan. Allah berfirman:

“Kemudian itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin…” (Al-Munafiqun: 8)

Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati. Kalianlah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kalian beriman.” (Ali-Imran: 139)

Iman adalah perkataan dan perbuatan, lahir dan batin. Allah berfirman:

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya…” (Fathir: 10)

Maksudnya, siapa saja yang menginginkan kemuliaan, hendaklah ia mencari dengan mentaati Allah dan berzikir kepada-Nya dengan mengucapkan kalimat thayyibah dan beramal saleh.

Sementara di dalam doa qunut ada kalimat berbunyi:

“Sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau jadikan wali dan tidak akan mulia siapa saja yang Engkau musuhi.”

Siapa saja yang taat kepada Allah, berarti ia telah menjadi wali-Nya. Ia akan menadpat kemuliaan sesuai dengan ketaatanya. Adapun orang yang bermaksiat, berarti Dia telah memusuhi Allah karena kemaksiatannya. Ia akan mendapat kehinaan sesuai kemaksiatannya.

h. Menutup pintu masuk setan ke dalam hati. Setan masuk ke dalam hati bersama pandangan mata. Ia masuk ke dalam hati menduduki tempat yang kosong bersama pandangan mata dan merasuknya hawa nafsu. Lalu setan akan menjadikannya berhala yang dipuja hati. Setelah itu, setan akan menghiasi dan menjadikannya berhala yang dipuja hati. Setelah itu, setan akan memberikan janji-janji, membangkitkan angan-angan, dan mengobarkan api syahwat di dalam hati. Menghidupkan api syahwat dengan kayu-kayu bakar kemaksiatan. Kayu bakar kemaksiatan itu tidak akan sampai kepadanya tanpa ada gambaran indah dari setan tersebut. Maka terjadilah kobaran api maksiat di dalam hati.

Hati yang telah diliputi api dari setiap sisi. Ia berada di tengah kobaran api ibarat (daging) domba di tengah perapian.

Karena itu, hukuman bagi orang yang menuruti syahwat adalah, Allah menyiapkan tungku dari api untuk mereka di alam barzakh dan menempatkan ruh-ruh mereka di dalamnya sampai datangnya hari dikumpulkannya tubuh-tubuh mereka. Seperti yang diperlihatkan Allah kepada Nabi-Nya dalam mimpi beliau. Hal ini disebutkan di dalam sebuah hadits yang disepakati keshahihannya.

i. Menjadikan hati sibuk memikirkan kemashlahatan untuk dirinya. Mengumbar pandangan dapat menjadikan hati lupa terhadap hal itu dan dapat menghalanginya dari hal tersebut. Akibatnya, perkaranya menjadi runyam dan terjerumuslah ia ke dalam sikap memperturutkan hawa nafsu dan lalai dari berzikir kepada Rabb-nya. Allah berfirman:

Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaanya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

Dampak dari mengumbar pandangan tidak lepas dari tiga perkara dalam ayat di atas. Masing-masing sesuai kadarnya.

j. Baiknya Pandangan Juga Tergantung Pada Baiknya Hati. Kerusakan pandangan juga tergantung pada kerusakan hati. Jika hati rusak, rusaklah pandangan. Sebaliknya, jika pandangan rusak, rusaklah hati.

Begitu juga dalam hal kebaikannya. Jika pandangan rusak, hati juga rusak dan menjadi tempat sampah. Dengan begitu, ia tidak pantas menjadi tempat bersemayamnya makrifat dan cinta kepada Allah. ia tidak akan kembali kepada Allah, tidak merasa tenteram dengan-Nya, dan tidak bahagia jika dekat dengan-Nya.[1]

3. Ridha dan Qanaah

Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya dan karunia Rabb kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131)

Maksud ayat tersebut menurut Syaikh Adurrahman As-Sa’adi adalah janganlah kalian menatap takjub dan mengulangi pandangan karena memuji keadaan dunia dan orang-orang yang bersenang-senang dengan makanan dan minuman yang lezat, pakaian yang bagus, rumah yang megah, dan wanita yang cantik. Sebab, itu semua merupakan bunga kehidupan dunia. Dengan itu, jiwa manusia yang tertipu berhasrat kepadanya dan mata orang-orang yang berpaling (dari kebenaran) akan melihatnya dengan penuh berkah ketakjuban serta kaum yang zalim akan bersenang-senang dengannya.

Kemudian semua itu akan sirna dengan cepat dan membunuh para pecinta dan perindunya. Mereka pun menyesal pada hari ketika penyesalan tiada berguna lagi. Mereka mengetahui apa yang akan menimpa mereka pada hari kiamat. Padahal, Allah menjadikan semua itu hanya sebagai ujian dan cobaan, agar tampak siapa yang berhenti di sisinya dan tertipu dengannya, dan siapa yang paling baik amalannya.[2]

4. Melihat semua perkara dengan merenungkan dan memikirkannya.

Andai manusia mau berpikir dan membandingkan secara benar antara istrinya dan wanita lain –terlebih yang tidak menutup aurat dan bertabaruj- pasti ia akan mendapati dirinya memiliki banyak kenikmatan yang tak ternilai di rumahnya. Yakni, istri shalihah yang menjaga kehormatannya, membersihkan rumah, memasak, menyiapkan pakaian, dan mendidik anak-anaknya.

Adapun para wanita yang ia lihat di jalanan, di atas lembaran majalah atau koran, yang berseliweran di layar TV, sekalipun cantik fisiknya, tapi sebenarnya akhlak dan tabiat mereka tidak diketahui. Mungkin saja suaminya akan meninggalkan setelah tahu itu.

5. Mengetahui bahwa karakteristik wanita utama adalah takwa dan akhlak yang baik.

Rasulullah bersabda:

“Seorang wanita dinkahi karena empat hal; harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Pilihlah (wanita) karena agamanya. Pasti kamu akan beruntung.”[3]

Betapapun cantiknya seorang wanita jika lancang lisannya, buruk akhlak dan pergaulannya, laki-laki akan menjauhinya. Walaupun suami bisa bersabar beberapa waktu, tapi tidak hingga akhir hayat.

Kecantikan hakiki yang akan kekal dan membuahkan kebahagiaan suami istri lahir dari kesuciaan hati. Ia lahir dari kehalusan perasaan. Dengan itu, seorang istri akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan suami dan menjauhi hal-hal yang mendatangkan kebenciannya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Kecantikan hakiki juga akan lahir dari ketawadhuan dan qanaah istri dari sikap menampakkan sensitivitas seorang wanita dalam antusiasme untuk selalu selaras dengan suaminya, mentaatinya kecuali dalam kemaksiatan kepada Allah dan mencari keridhaannya.

Cantik memiliki banyak wajah, di antaranya kecantikan spritual, kesenangan, kecantikan permainan, dan kecantikan pelayanan serta penjagaan. Semua jenis kecantikan ini berada di bawah satu kecantikan, yaitu kecantikan akhlak. Sehingga apapun yang dipakai orang yang cantik akhlaknya akan nampak cantik. Itu terjadi jika seseorang mencintai istrinya karena kelebihan akhlak dan muamalahnya. Karena dengan begitu ia akan melihat semua yang ada pada diri istrinya adalah cantik.

Kecantikan fitrah dan tabiat menuntut sesorang wanita tidak lari meninggalkan tabiat dan fitrahnya sebagai wanita. Wanita seperti ini tidak akan menduduki posisi laki-laki. Jika seorang wanita menduduki posisi laki-laki maka hilanglah kecantikan dan kedudukannya. Sebab, kedudukan dan kecantikannya tergantung pada fitrah dan karakteristiknya. Kecantikan fitrah dan karakter itulah yang membedakan dirinya dengan yang lain. Sebaliknya, jika seorang wanita memosisikan diri bukan pada tempatnya, maka hilanglah daya tarik dan kecantikannya.

Kecantikan juga memiliki banyak macam, sehingga sangat sulit mendefinisikannya. Tapi setidaknya, jenis kecantikan yang paling urgen adalah kecantikan spiritual, keceriaan, pengorbanan, dan tidak mementingkan diri. Ada juga kecantikan senyuman, bahkan pada kondisi-kondisi sulit sekalipun. Dan ada pula kecantikan berupa keceriaan di dalam rumah.

Wanita yang berakhlak mulia itu ibarat makanan enak yang menuntun jiwa segera menyantapnya penuh selera. Jika seorang wanita ingin mengukur sejauh mana kedudukannya di sisi suaminya, maka ia bisa melihat seberapa nyaman suaminya tinggal di rumah. Sebab, jika seorang wanita mampu memasak masakan lezat sesuai selera orang-orang yang ingin menyantapnya, maka sangat lebih pantas jika suaminya mendapat prioritas utama dalam masalah ini.

Kecantikan Interaksi, Akhlak Dan Pergaulan

Jenis kecantikan ini merupakan kecantikan hakiki yang akan hidup dan kekal. Kecantikan inilah yang mewarnai dan membentuk seorang wanita menjadi yang tercantik. Karena sumbernya adalah hati, karunia, dan takut kepada Allah.

Jika seorang wanita memiliki jenis kecantikan ini, seorang suami pasti akan bahagia hidup bersamanya dan memandangnya sebagai wanita tercantik. Sebaliknya, jika kecantikan hanya sebatas lahir saja, tanpa memiliki kecantikan spritual dan akhlak, kecantikan itu akan hilang di sela-sela pergaulan yang buruk.

Abu Hurairah telah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Seorang wnaita dinikahi karena harta, keturunan, kecantikan dan dinnya. Pilihlah (wanita) karena dinnya, pasti kamu beruntung.”

Ada kisah seorang kakek yang menjelaskan makna kecantikan sejati. Menurut kebiasaan keluarga pada zaman dahulu, dalam mencari pasangan hidup diprioritaskan mencari nasab dan keberanian.

Alkisah, ada seorang bangsawan mencari istri. Ia mendapatkan informasi bahwa syaikh Fulan bin Fulan memiliki beberapa orang anak perempuan yang cantik. Bangsawan itu meminang salah seorang putrinya. Melihat hal itu, berkatalah putri tertua kepada pamannya sebab sang ayah telah meninggal. “Paman jadikanlah ia suamiku karena aku adalah anak tertua.” Pinta sang gadis. Pamannya menyetujui permintaan itu dan menikahkannya dengan sang bangsawan.

Tatkala suaminya masuk menemui wanita itu, ia terkejut karena sang istri bukanlah wanita yang sempurna fisiknya seperti yang diinformasikan. Wanita itu kurang cantik dan berpostur pendek. Namun , ia tidak mendapatkan alasan untuk menceraikannya esok pagi. Ia pun tidur membelakangi istrinya di ranjang pengantin.

Sang istri pun terduduk menahan sedih. Ia merasa tidak bersalah dan tak bisa mengubah kekurangan fisiknya. Allah-lah yang telah menciptakannya dengan bentuk seperti itu. Dalam duduknya ia merasakan malam begitu panjang dan pagi tak segera datang.

Saat waktu subuh tiba, sang suami terbangun oleh suara muadzin, ‘Hayya ‘alasshalah, Ash-Shalatu khairun minannaum’. Ketika hendak melaksanakan shalat Subuh, tiba-tiba istrinya menahannya dan mencium kepalanya. Kelelakian dan keluhuran budinya pun sedikit tersentuh dan berbisik, “Aku akan menceraikannya satu bulan lagi.” ini semata-mata agar tidak menjadi buah bibir kaum kerabat dan mereka tidak bertanya-tanya mengapa mereka hanya hidup bersama satu hari saja.

Seiring bergantinya hari, pandangan lelaki itu terhadap istrinya berubah dan berniat tidak menceraikannya. Istrinya pun menjadi wanita yang sangat ia cintai.

Rahasianya, ternyata setiap malam istri tersebut selalu menjaga suaminya di saat tidur dan menceritakan berbagai kisah yang disenanginya sampai ia tertidur. Setelah itu, ia bangun menyelesaikan urusan-urusan rumahnya. Setelah menyelesaikan pekerjaanya, ia pun menebar kelembutan di samping suaminya di peraduan.

Pada suatu hari, suaminya menanyakan, apakah ia sudah mengikat kudanya atau belum. Ia menjawab sudah (padahal belum) karena tidak ingin menganggu  perasaan suaminya. Ia bertekad, setelah suaminya tidur, ia akan melakukan pekerjaan itu. Setelah suaminya tertidur, segera ia bangun dan pergi ke kandang kuda untuk mengikatnya. Namun, ternyata kuda itu terkejut dengan kehadiran si istri, kuda itu pun meringkik sehingga membangunkan si suami dari tidurnya.

Dalam keadaan kaget karena bangun tidur, ia mencari tahu apa yang menyebabkan kuda tersebut gelisah. Sekelabat, ia melihat ada seseorang yang duduk di depan kudanya. Ia merasa yakin bahwa orang itu adalah pencuri kuda. Diambilnya senapan dari kamarnya dan diarahkan pada orang tersebut. Ia pun menembak oran itu hingga tewas.

Ketika tahu bahwa yang ditembak adalah istrinya sendiri, ia sangat terpukul dan sedih. Ia peluk istrinya dengan kedua tangannya sambil membersihkan debu-debu yang menempel di tubuh istrinya.

Beberapa waktu kemudian, ia mencari istri baru. Tapi, setiap perempuan yang dinikahinya tak didapati ia memiliki sifat seperti istri pertamanya.

Dari kisah di atas, tampaklah bahwa kecantikan luar akan luntur dan terkubur ketika berhadapan dengan kecantikan tabiat yang ditopang oleh akhlak yang harum dan cara pergaulan yang istimewa.[4] [Syahida.com]

Sumber: Buku Suamiku, Dengarkanlah Curahan Hatiku. Isham Muhammad Syarif.

 

[1] Lihat Al-Jawab Al-Kafi Liman Sa’ala An Ad-Dawa’i Asy-syafi, karya Imam Ibnul Qayyim (193-196).

[2] Lihat Tafsir Ibnu As-Sa’di : III/260.

[3] HR. Bukhari (%090) dan Muslim (1466).

[4] Lihat Asy-Syuhdu wa Asy-Sayuku filhayah Az-Zaujiyyah, hlm 95- 97, dengan sedikit perubahan.

Share this post

PinIt
scroll to top