Kisah Hikmah : Bakti Pada Orangtua

 

Ilustrasi. (Foto : islamicsquare.com)

Ilustrasi. (Foto : islamicsquare.com)

Syahida.com – Ibu itu duduk di suatu sore membantu anak-anaknya mengulangi pelajaran mereka. Ia memberikan sebuah buku gambar kepada anaknya yang berusia empat tahun agar tidak mengganggunya memberikan penjelasan kepada kakak-kakaknya yang lain.

Tiba-tiba saja ia teringat bahwa ia belum menyiapkan makan malam untuk ayah suaminya yang telah lanjut usia yang kebetulan tinggal bersama mereka di rumah itu. Namun kamarnya terpisah dari bangunan utama rumah itu. Ia memang selalu berkhidmat kepada ayah mertuanya itu sedapat mungkin. Dan suaminya ridha dengan apa yang ia lakukan kepada sang ayah yang tidak lagi meninggalkan kamarnya karena kesehatannya yang lemah.

Ia segera membawa makanan untuknya dan menanyakan jika ia membutuhkan bantuan yang lain. Setelah itu, wanita itupun pergi dan kembali berkumpul bersama dengan anak-anaknya. Ia memperhatikan si bungsu asyik menggambar lingkaran dan persegi empat dengan memberinya kode. Ia pun bertanya kepadanya: “Apa yang sedang engkau gambar ini, Sayang?”

“Aku sedang menggambar rumah yang nanti akan aku tinggali ketika aku dewasa dan menikah,” jawab si bungsu dengan polos. Betapa bahagianya ibu muda itu mendengar jawaban si bungsu.

“Di mana engkau akan tidur nantinya?”

Si bungsu itupun mulai menjelaskan setiap kotak yang digambarnya, ini kamar tidur. Ini adalah dapur dan ini adalah ruang untuk para tamu. Tinggallah sebuah kotak yang tersendiri di luar lingkaran yang dibuatnya. Kotak itu terpisah dari semua kotak yang digambarnya.

Sang ibu muda itu benar-benar heran. Maka ia bertanya padanya: “Mengapa kamar ini berada di luar rumah sendirian, terpisah dari kamar-kamar lainnya?”

“Kamar itu untuk ibu, aku akan menempatkan ibu di sana seperti sekarang kakekku hidup.” Jawab si bungsu.

Bagai petir hebat menyambarnya, ibu muda itu benar-benar terkejut dengan apa yang diucapkan oleh putra bungsunya.

Ia mulai bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apakah aku tinggal sendiri di kamar luar rumah itu tanpa bisa menikmati obrolan bersama anakku dan cucu-cucuku ketika aku sudah tidak mampu lagi bergerak? Siapa yang akan kuajak berbicara ketika itu? Apakah aku akan menghabiskan umurku dalam kesendirian di antara empat tembok tanpa dapat mendengarkan suara anggota keluargaku yang lain?

Ia segera memanggil pembantunya dan dengan cepat ia segera memindahkan semua perabotan yang ada di kamar untuk menerima tamu –kamar yang biasanya paling indah- ke kamar mertuanya di halaman dan mengganti isinya dengan semua perabotan yang ada di kamar mertuanya. Dan ketika suaminya kembali, ia benar-benar terkejut dengan suprise itu.

“Mengapa tiba-tiba tejadi perubahan seperti ini?” tanyanya.

Ia menjawab dengan air mata yang terus menerus mengalir di matanya: “Aku memilih kamar terindah untuk kelak kita –aku dan engkau- tinggali jika Allah memberikan umur panjang kepada kita dan kita tidak lagi mampu bergerak. Biarlah para tamu saja yang tidur di kamar pekarangan rumah itu…”

Suaminya pun memahami apa yang ia maksudkan. Ia memujinya atas semua yang dilakukannya untuk ayahnya yang terus memandang mereka sembari tersenyum penuh keridhaan.

Sedang si bungsu kemudian menghapus gambarnya dan tersenyum. [Syahida.com]

Sumber: Buku Chiken Soup for Muslim karya Ahmad Salim Baduwailan

Share this post

PinIt
scroll to top