Cinta Tak Bersyarat

Ilustrasi. (Foto : lettersfortheworld.com)

Ilustrasi. (Foto : lettersfortheworld.com)

Syahida.com – Banyak istri mengeluh karena suami mereka tidak pernah mengucapkan kata “Cinta”, kecuali jika sedang membutuhkan sesuatu. Mereka merasa suami telah melupakannya. Masalah ini termasuk penyebab terbanyak yang menggoyahkan makna cinta bagi sejumlah pasangan suami-istri. Cinta bersyarat merupakan timbal balik kemashlahatan yang lebih dari sekedar luapan rasa cinta. Adapun cinta sejati adalah pengabdian tanpa batas, dan bukan transaksi yang mengandung untung atau rugi bagi salah satu pihak.

Ketika suatu pengabdian tergantung pada imbalan, maka Anda telah mencabut bilai paling mulia cinta, yaitu curahan perasaan. Seharusnya seorang suami mencurahkan rasa cintanya secara berimbang, baik di kala susah maupun senang. Simak, kisah berikut ini: Setelah ‘Imad dan Maryam melahirkan anak pertama mereka. ‘Imad sering tidak ada di rumah. Tangisan bayi mengganggu istirahatnya, setelah lelah bekerja sehari penuh. Namun, ‘Imad tidak merasa dirinya kurang memperhatikan hak Maryam. Dia selalu memberikan cinta dan kasih sayangnya kepada Maryam, dan tidak melalaikan kewajiban memberi nafkah lahir dan batin. Suatu hari, Maryam tiba-tiba menangis tersedu-sedu tanpa alasan yang jelas.

‘Imad: “Ada apa Maryam? Semoga kamu baik-baik saja.”

Maryam (nampak sedih): “Aku menanggung penderitaan sendiri. Sementara engkau tidak ada di sisiku.”

‘Imad (heran): “Bukankah aku ada di sisimu? Kenapa engkau berkata seperti itu?”

Maryam (menangis): “Tidak, engkau tidak bersamaku. Tubuhmu ada bersamaku, tetapi di mana perasaanmu? Di mana dukunganmu, saat aku menghadapi kesulitan? Aku ingin mendapatkan kekuatan dari kasih sayangmu dan menjadi kokoh dengan cintamu, karena engkau adalah bekal hidupku, tapi mengapa engkau enggan memberiku bekal itu?”

Seketika itu, ‘Imad sadar betapa sering dia bersikap egois dan tanpa perasaan. Bagiamana dia tega meninggalkan Maryam dalam kondisi sulit? Memang, tangisan bayi dan perubahan yang terjadi di rumah, ditambah kondisi kesehatan Maryam setelah melahirkan, adalah kondisi yang membuat ‘Imad merasa tidak nyaman. Namun, kepergiannya meninggalkan Maryam dalam kondisi tersebut mengakibatkan kesepian dan penderitaan bagi Maryam. ‘Imad sadar, dulu dia penuh cinta dan kasih sayang, menemani istrinya di saat-saat sepi, tetapi, kenapa kini dia acuh dan egois di saat penting, atau di saat Maryam membutuhkan kehadirannya.

Mungkin Anda akan berkata, “Peran utama seorang istri adalah sebagai ibu rumah tangga dan mendidik anak, sedang suami sudah cukup lelah dengan pekerjaanya sehari-hari. Jadi, adil jika suami mendapatkan hak untuk beristirahat.”

Saya ingin mengingatkan, rumah tangga yang berpijak pada keadilan adalah rumah tangga yang tidak mengenal arti kebahagiaan. Jika kebahagiaan seorang istri tidak menjadi prioritas kebahagiaan yang dicita-citakan. Ketika sikap saling pengertian telah masuk dalam hati kedua pasangan, maka segala masalah kehidupan akan terasa mudah dan cinta akan kokoh, tidak tergoyahkan oleh apa pun.

Niat baik saja tidak cukup untuk menciptakan kebahagiaan. Demikian halnya, ucapan “Aku cinta padamu”, meski ucapan ini mempunyai pengaruh magis, namun, harus disertai dengan tindakan positif yang membuat pasangan hidup Anda merasakan kejujuran dan ketulusan Anda.

Harley, seorang konsultan pernikahan, berpendapat, “Masing-masing pasangan suami-istri harus memahami mengapa niat baik saja tidak cukup dalam mencegah terjadinya pertengkaran dalam rumah tangga. Kita terbiasa bertanya pada diri sendiri, ‘Apakah pernikahan telah memenuhi semua keinginan kita atau tidak? seharusnya, kita mengajukan pertanyaan sebaliknya, ‘Sampai sejauh mana kita memenuhi kebutuhan pasangan hidup kita?’ dalam pertanyaan semacam ini, terdapat solusi tepat dalam mencapai pernikahan yang adil dan seimbang; masing-masing pasangan berhasil memperoleh hak emosional, biologis, dan psikologis,”

-“Semakin bertambah cinta, semakin berlipat kekhawatiran kepada orang yang dicintai”- [Syahida.com]

Sumber : Kitab Teruntuk Sepasang Kekasih, Karim Asy-Sadzili 

Share this post

PinIt
scroll to top