Berbakti Kepada Orangtua… Dahulu dan Sekarang

Ilustrasi. (Foto : goldagofficial.blogspot.com)

Ilustrasi. (Foto : goldagofficial.blogspot.com)

Syahida.com – Bagaimana kondisi kita saat ini? Tahun-tahun yang panjang telah dengan membawa kebajikan-kebajikan kemanusiaan yang diyakini sebagai amalan suci yang menjadi kebanggaan kaum Muslimin. Salah satu di antaranya adalah sikap taat dan patuh kepada orangtua. Di masa lalu, orang berjuang mati-matian dan menjadi tebusan bagi orangtuanya. Bahkan rela mengorbankan nyawa agar orangtua tidak menderita, meski hanya duri yang nyawa agar orangtua tidak menderita, meski hanya duri yang melukai kaki mereka.

Saat ini, menyusul kemajuan luar biasa dan peradaban modern yang diraih umat manusia, wacana birrul walidin (bakti kepada orangtua) menjadi fenomen masa lalu yang seakan dilupakan. Apa yang sering kita dengar dari waktu ke waktu tentang penderitaan orangtua yang menjadi korban kedurhakaan anak atau ketidakpedulian anak, tidak lagi dipandang sebagai sebuah tindakan yang aneh dan langka, serta tidak berlebihan. Hampir setiap hari kita mendengar atau membaca peristiwa seperti itu. Sebaliknya, birrul walidain dan sikap menjunjung tinggi orangtua menjadi barang langka.

Pelanggaran anak terhadap hak orangtua sudah di ambang batas kewajaran. Tidak sebatas mengucapkan perkataan ‘ah!’ sebagaimana larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an, namun lebih dari itu. Anda tentu sudah mendengar kisah remaja putri yang meminta upah pada orangtuanya sebagai imbalan membersihkan kamar mereka? Kisah remaja yang tega membunuh ibu kandungnya sendiri yang sudah renta kemudian melahap dagingnya?!

Kejadian tragis ini terjadi di Barat. Bagaimana dengan masyarakat kita? Anak membakar ayahnya, anak celaka mengusir ibu kandungnya dari rumah, dan berita tentang anak yang meletakkan sampah di kepala ayahnya. Akhirnya, demi menyelamatkan diri dari kekejaman anak, para orangtua dengan amat terpaksa melarikan diri ke pani-panti jompo. Panti jompo yang semula hanya terdapat di Barat, kini bertebaran tidak saja di dunia, Arab-Islam, tetapi ia ada dirumah-rumah kita sendiri! Ketika seorang anak direpotkan dengan orangtua yang mulai renta, segera ia membawa orangtuanya ke panti jompo atau sejenisnya, hingga ajal menjemput mereka.

Dua atau tiga dasawarsa yang lalu, pernahkah kita menyaksikan atau sekedar mendengar nama panti jompo atau asrama manula? Yang kita ketahui dan yang dimaklumi banyak orang, bahwa satu rumah dihuni oleh tiga generasi di mana kehidupan mereka, dari bangun sampai tidur, diatur oleh suara azan. Setiap orang sadar dengan makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan mengetahui hak orang alim di antara kita.”[1]

Dahulu, berbakti kepada orangtua menempati urutan kedua sesudah ibadah kepada Allah. Memperoleh doa restu orangtua merupakan harapan yang amat besar. Namun, saat ini dimana barometer nilai terjungkirbalik – na’udzu billah min dzalik – yang baik bagi orangtua adalah mereka meninggalkan rumah demi anak durhaka yang hidup bahagia bersama istrinya, dengan cara menghabiskan sisa umur mereka di panti jompo.

Ada baiknya penulis menuturkan kisah nyata yang terjadi lima tahun silam di ibukota (Kairo). Singkat cerita, ada seorang kawan yang telah menikah dan dikaruniai beberapa orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia tujuh tahun. Kawan ini tinggal bersama orangtua satu-satunya yang telah lanjut usia. Dengan bujukan dan rayuan manisnya, si istri meminta agar dia menempatkan ayahnya di salah satu bilik masjid yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. Si istri berdalih, hal itu akan meringankan ayahnya agar ia tidak perlu lagi pulang pergi dari rumah ke masjid, dan ia berjanji akan memperhatikan dan memenuhi segala kebutuhan ayahnya. Si suami, sahabat saya yang kalah beragumentasi, begitu saja menerima usulan sang istri dan mengutarakan rencana tersebut pada ayahnya. Si ayah tidak mempunyai pilihan selain menyetujui keinginan anaknya.

Di hari yang direncanakan, si suami pergi ke pasar ditemani anak pertamanya (tujuh tahun) untuk membeli perabot kamar yang diperlukan sang ayah; kasur, ranjang, lemari, dan sebagainya. Disinilah pertolongan Allah! Anaknya yang masih kecil yang diajak berbelanja, bertanya pada sang ayah; apa yang hendak dibeli dan untuk siapa? Ia menjawab, bahwa perabotan yang dibeli itu untuk keperluan kakeknya, sebab ia akan tinggal di bilik yang ada di masjid yang berdekatan dengan rumah. Si anak kecil yang lugu dengan perasaan tanpa salah bertanya lagi kepada ayahnya, “Kapan aku akan membelikan perabot seperti itu untukmu, ayah?!”

Pertanyaan tersebut laksana petir yang menyambar telinga ayahnya. Bumi di bawah kakinya seperti berguncang. Ia pun bangkit dari ketidaksadarannya. Dikembalikan semua barang yang ia beli pada si penjual dan tanpa menunggu, si penjual memulangkan uangnya, ia berlari menemui ayahnya, mencium dan meminta maaf kepadanya. Kali ini ia menyatakan, ayahnya boleh memilih tempat terbaik di dalam rumah, sedang terhadap sang istri yang durhaka, ia diberi pilihan untuk setia pada ayahnya dan anak-anaknya atau kembali ke rumah kerabatnya. Demikianlah, sahabat yang saya kenal itu kembali ke jalan kebenaran. Allah telah membuka hatinya. Ia pasti akan dibalas dengan balasan yang setimpal, dan balasan itu sepadan dengan amal yang dilakukan.

Dan balasan yang buruk itu adalah keburukan yang serupa. (QS. Asy-Syura [42]: 40)[2]

Sumber: Musa bin Muhammad Hajjad az-Zahrani (Keramat Hidup: Orangtua)

  1. Hadist Hasan, lihat al-Albani, Shahih al-Jami’ hadist no. 5443
  2. Makalah DR. Sulaiman bin ‘Abdurrahman al-‘Anqari, Harian al-Jazirah 12 Ramadhan 1421, No. 10298.

Share this post

PinIt
scroll to top