Kisah Anak Berbakti, Tak Berani Bersuara Lebih Tinggi Dari Ibu

Ilustrasi. (Foto : myfitriblog.wordpress.com)

Ilustrasi. (Foto : myfitriblog.wordpress.com)

Syahida.com – Suatu hari sang ibu berkunjung ke rumahnya. Tampak dari wajahnya bahwa sang ibu sedang dirundung duka. Ketika ia bertanya mengapa, ibunya menjawab, “Kakak perempuanmu tidak kunjung menikah. Orang-orang percaya kakakmu terkena guna-guna (sihir), atau dalam tubuhnya bersarang jin yang menghalanginya untuk menikah! Karena itu, aku memintamu membantuku mencari ‘orang pintar’ yang dapat menolong menemukan jodoh untuknya!” Sepasang mata saudari kita itu menatap tajam ke arah ibunya dan spontan dari kedua bibirnya keluar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan bagimu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan bagimu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-An’am [6]: 17).

Nada bicara ibunya meninggi dan berkata, “Aku bermaksud mengatasi persoalan yang sedang menimpa anak perempuanku, apakah tindakan itu salah? Bukankah aku tidak akan menyakiti seorang pun dengan apa yang aku lakukan? Tapi, kau tidak ingin sedikit pun membantu kakak mu!” Saat perdebatan memuncak setan menggoda saudari kita, dan membisikkan bahwa ia berdiri di pihak yang benar. Tidak diragukan lagi, memang pendapat dialah yang benar, tetapi setan membujuknya untuk mempertahankan kebenaran itu dengan cara yang keliru. Ia berbicara dengan suara tinggi melampaui suara ibunya untuk mempertahankan pendapatnya.

Namun, seketika ia teringat kesepakatan awal dan sadar akan makna ayat. Gejolak emosinya merubah taktik untuk mengatasi kemelut yang tengah berlangsung. Ia meraih tangan sang ibu dan menciumnya. Ia meminta maaf dan berusaha mengambil hati sang ibu. Ibunya yang mulai tampak tenang berkata, “Jadi kapan engkau akan mengantarkan aku? Orang yang akan kita datangi itu amat terkenal di mana-mana. Dia pasti akan dapat membantu kita carikan jodoh yang tepat untuk kakak perempuanmu. Aku akan memberi imbalan besar atas jerih payahnya!”

Dengan lemah lembut dan penuh harap, saudari kita berkata pada ibunya, “Tetapi di sana ada yang dapat membantu kita tanpa meminta imbalan dan hasilnya dapat diandalkan. Bahkan, Dia juga akan membantumu mendapatkan ketentraman dan ketenangan batin hingga engkau mampu mengatasi persoalan ini.” Sang ibu berkata, “Subhanallah! Benarkah? Mungkin teman-temanku lupa memberitahukan kepadaku. Tapi tidak masalah, selama ia memiliki keandalan seperti yang engkau katakan padaku, kita akan mendatanginya!” Anak perempuannya berkata, “Tepat, kemampuan-Nya melampaui batas. Jika Dia menghendaki sesuatu, ia cukup mengatakan, ‘Jadilah!’ dan seketika, apa yang diinginkan pun terwujud. Lagi pula Dia tidak akan meminta imbalan sedikit pun, sebab Dia amat kaya. Engkau cukup menemuinya dan mengajukan keinginanmu!”

Sang ibu yang amat tertarik oleh penuturan putrinya itu berkata, “Demi Allah, jika demikian halnya aku merasa tenang. Bukankah akan lebih baik jika sekarang juga engkau menghubunginya, kapan kita bisa bertemu?” Putrinya menjawab, “Engkau akan bertemu dengannya saat ini juga, sebab Dia ada bersama kita!” Sang ibu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan sangat kebingungan, sedangkan putrinya menghadap ke arah kiblat seraya bermunajat, “Wahai Tuhanku, wahai Pelindungku! Wahai Yang Menggenggam segala sesuatu, wahai yang memiliki kekuasaan di atas segala kekuasaan, dan tidak ada sesuatu pun yang memiliki kekuasaan selain dari-Mu. Wahai yang mengabulkan doa orang yang terhimpit, Engkaulah yang menghindarkan keburukan! Aku menghadap-Mu dan tidak ada yang kami minta selain Engkau! Engkau Tuhan Yang Mahakuasa, Yang Maha Memiliki, Yang Maha Meliputi, dan Engkau-lah Yang Maha Satu. Di sisi-Mu jawaban dari segala permohonan kami, hanya Engkau yang kuasa untuk melepaskan kami dari penderitaan ini!” Ia terus memohon pertolongan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pasrah dan tunduk.

Sekonyong-konyong meledaklah tangis sang ibu. Ia bersujud pada Allah seraya memohon ampun dan berdoa. Airmata putrinya pun tak terbendung, mendengar pinta sang ibu pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah kali pertama ia menyaksikan sang ibu begitu pasrah dan tunduk dalam sikap yang meluluhkan hati. Bersamaan dengan berakhirnya penuturan saudari kita, kering pula airmata kami. Setiap orang di antara kami tampak berdoa dalam hati, bermunajat pada Allah memohon agar Dia mengabulkan harapan dan doa kami. Dialah satu-satunya yang kuasa mengabulkan doa  dan mewujudkan harapan.

Para pembaca yang budiman, masihkah Anda bersama kami untuk menyimak lebih jauh pengalaman hidup bersama firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah membentak mereka.” (QS. Isra’ [17]: 23). [Syahida.com]

Sumber: Musa bin Muhammad Hajjad az-Zahrani (Keramat Hidup: Orangtua)



Share this post

PinIt
scroll to top