Cara Cerdas Menyelesaikan Masalah Rumah Tangga

Ilustrasi. (Foto : weheartit.com)

Ilustrasi. (Foto : weheartit.com)

Syahida.com – Cara menyelesaikan masalah rumah tangga dapat diselesaikan dengan beberapa poin di bawah ini:

1. Langkah pertama yang harus adalah mencari akar masalah tersebut. Yang sering terjadi, kita hanya mencari kulitnya saja. Bila kita amati dengan cermat, kita akan menemukan permasalahan sejatinya terletak pada awal yang tidak tampak. Pasangan suami-istri bisa saja bertengkar gara-gara salah satunya datang terlambat saat makan malam. Namun, inti permasalahan bukan itu.

Kita semua –karena tidak adanya kejujuran dalam kehidupan rumah tangga, terkadang menutup diri ketika kesal pada pasangan. Kita menunggu-nunggu kekhilafan atau kesalahannya yang dapat kita jadikan kesempatan untuk melampiaskan perasaan negatif kita. Salah seorang hakim menuturkan, “Saya menjumpai ribuan kasus perceraian. Sebagian besar atau hampir semuanya dilatarbelakangi oleh hal-hal sepele. Setelah melakukan pembicaraan dengan kedua belah pihak, di temukan penyebab perselisihan tersebut adalah karena mereka melihat masalah dari sisi lahiriahnya saja.

Kita dapat menghindari terjadinya masalah seperti ini dengan sedikit terbuka dan terus terang. kita harus sadar kekasih yang jujur tidak akan menyimpan kejengkelan di dalam hatinya. Sebab, cinta tak akan rela tinggal di dalam hati yang tercabik-cabik oleh amarah.

2. Memilih waktu yang tepat. Suatu masalah bisa berubah menjadi besar jika dibicarakan pada waktu yang tidak tepat. Misalnya, ketika suami Anda pulang kerja, tentu tidak tepat bagi Anda untuk mengajaknya membicarakan masalah atau memintanya untuk mengambil keputusan tegas. Selain itu, tidak tepat membicarakan masalah keluarga di kamar tidur, atau saat ia sedang tidak berselera untuk berbicara atau saat ia sedang sibuk. Jadi, memilih waktu yang tepat saat masing-masing pihak mempunyai kesediaan untuk berbicara dan berterus terang sangatlah penting untuk menghindari masalah yang besar.

-Tidak ada kesalahan yang lebih besar dari perbuatan tidak mengakui kesalahan-

Catatan:

Mungkin Anda akan mengatakan suatu masalah terkadang datang tanpa di duga, atau sebelum membicarakan suatu masalah pasangan suami–istri tidak sepenuhnya tahu bagaimana akhir dari pembicaraan itu. Memang benar. Namun, jika kita mempunyai keinginan kuat untuk menghadapi masalah tersebut, kita akan menyikapinya dengan tenang sesuai tingkat kesulitannya.

Kita tidak boleh membiarkan masalah semakin membesar atau menunda pembicaraan di lain waktu. Ketika seorang istri merasa kurang tepat membicarakan masalah pada saat tertentu, dia dapat mengatakan kepada suami, “Aku lihat engkau lelah. Kita bicarakan masalah ini di lain waktu saja” atau “Aku lihat engkau tidak konsentrasi. Sebaiknya kita bicarakan nanti saja” dengan tetap memperhatikan gaya bahasanya. Kadang, istri menggunakan ungkapan yang membuat suami mempertimbangkannya, misalnya “Engkau sedang tidak siap untuk berdebat. Kita tunda saja pembicaraan” atau “Aku tidak siap untuk memusingkan kepala. Kita bicara nanti saja.” Suami juga harus memperhatikan gaya bahasa semacam ini.

1. Menfokuskan pembicaraan pada masalah yang sedang dihadapi tanpa mengungkit masalah lainnya.

2. Mengganti kata “Kamu” dengan “Aku”. Ketika pasangan berbicara kepada yang lain dengan menggunakan kata “kamu”, ini akan membuatnya tertekan, karena kata “Kamu” dapat dipahami sebagai suatu tuduhan. Suami dapat saja mengakan “Aku sedih karena kamu tidak menghiraukan permintaanku” daripada ungkapan “Kamu tidak menghiraukan permintaanku”. Contoh lain “Aku berharap kamu melakukan ini dan memperhatikan ini” daripada ungkapan “Kamu harus melakukan ini dan memperhatikan ini”.

3. Hadirkan rasa cinta dalam pembicaraan, karena cinta dapat membantu memecahkan masalah. Seorang suami yang sedang marah pada istrinya, lebih bijaksana jika dia mengatakan, “Karena aku mencintaimu, aku berharap engkau tidak melakukan ini”. seorang istri dapat mengatakan kepada suaminya, “Engkau tidak tahu betapa besar cintaku padamu. Karena itu, masalah ini sangat mempengaruhi diriku.”

4. Memberikan kesempatan kepada pihak lain untuk kembali, meminta maaf, dan tidak mencecarnya. Dalam melakukan pembicaraan, jangan berprinsip “Yang penting menang.”

5. Sepakat untuk menghadirkan mediator sesuai persetujuan suami-istri. Selain itu, keduanya harus menghormati kepribadian mediator dan menghormati pendapatnya.

6. Sabar dan memperbaiki kondisi secara bertahap, kontinyu, dan perlahan. Dalam hadits Nabi disebutkan, Sesungguhnya sopan santun itu di capai dengan sikap lemah lembut dan ilmu diperoleh dengan belajar. Siapa yang mengharapkan kebaikan, dia akan mendapatkannya, dan siapa yang berhati-hati dari kejelekan, dia akan terjaga.

7. Melupakan kesalahan. Melupakan kesalahan mempengaruhi keharmonisan kehidupan rumah tangga. Ia ibarat oli pada mesin yang dapat melumaskan hingga mobil dapat bergerak dengan mudah dan lancar.

Melupakan kesalahan dapat menghindarkan terjadinya fitnah dan meredam permasalahan. Melupakan  kesalahan tidak lain adalah mengabaikan hal-hal sepele dan tidak menghiraukan kekhilafan dan kesalahan kecil. Berkaitan dengan ini, Imam Ahmad bin Hanbal memberikan nasihat, “Sembilan dari sepuluh macam akhlak yang baik, terdapat dalam sikap melupakan kesalahan.” Itu diperkuat dengan perkataan Imam Hasan Al-Bashri, “Melupakan kesalahan adalah perbuatan orang yang mulia.”

Wahai para suami-istri, demi cinta yang telah menyatukan Anda berdua, lupakanlah kesalahan Anda sedikit saja. Yakinlah, seperti syair berikut:

Orang yang bodoh tidak akan menjadi pemimpin kaum

Orang yang pura-pura bodoh adalah pemimpin kaum

Syaikh Muhammad Al-Ghazali pernah berkata, “Kita semua pasti mempunyai aib yang harus ditutupi dan diampuni. Siapa yang merasa dirinya dikaruniai kesempurnaan dan tidak mempunyai aib  lahir maupun batin, maka dia telah hanyut dalam khayalan. Meskipun pasangan suami-istri adalah sahabat kental, keduanya harus menjaga pandangan dan memohon perlindungan Allah.”[1]

Saya pernah membaca tulisan yang bagus dan ingin saya sampaikan kepada pasagan suami-istri sebagai pelajaran. Dalam buku La Tahzan disebutkan:

“Andai suami istri mencabut semua ucapan yang menghina, menyakiti perasaan, dan melecehkan. Andai keduanya dapat mengingat kebaikan sang istri dan melupakan sisi kekhilafan manusiawi. Seorang suami jika mengingat kebaikan sang istri dan melupakan kekurangannya akan merasa bahagia dan nyaman. Dalam sebuah hadits disebutkan, seorang Mukmin tidak akan membenci Mukminah, ketika ia tidak menyukai  akhlak (yang jelek), dia sudi melihat sisi lain akhlaknya (yang baik).

Seorang penyair berpetuah,

Siapakah yang tidak mempunyai kejelekan?

Siapakah yang hanya mempunyai kebaikan?

Siapakah yang pedang kebajikannya tidak pernah patah?

Siapakah yang kuda kebaikannya tidak pernah jatuh?”[2]

…sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan jeji dan mungkar itu) selama-lamanya. (An-Nur: 24: 21)

[Syahida.com]

Sumber : Kitab Teruntuk Sepasang Kekasih, Karim Asy-Sadzili

 

[1] Fann adz-Dzikr wa ad-Du’a ‘Inda

[2] DR. ‘Aidh al-Qarni, La Tahzan.

Share this post

PinIt
scroll to top