Menghayati Problematika Rumah Tangga

Ilustrasi : Foto (pinterest.com)

Ilustrasi : Foto (pinterest.com)

Syahida.com – Seorang penyair memberika petuah,

Aku dirundung banyak masalah

Engkau ingin semuanya enyah

Dan menuduh zaman telah bersalah

Mencari bara di dalam air, dapatkan?

Meski kita telah berusaha semaksimal mungkin menghindari permasalahan dan tekanan kehidupan, kita pasti tetap akan mengahadapinya. Sebab, sudah menjadi hukum alam, dalam masalah terkandung banyak mashlahat. Kita harus membuka pintu keluarnya, daripada kita lawan, namun kita justru kalah. Barangkali yang menjadi pertanyaan Anda adalah apa manfaat dari sebuah masalah atau tekanan kehidupan?

Tekanan kehidupan yang kita temui dapat mendewasakan dan menambah pengalaman kita. Air harus membeku dulu, agar dapat digerakan oleh batu. ‘Abdul Wahhab Muthawai’ berkata, “Manusia mempunyai kekuatan untuk bertahan hidup yang diperoleh dari kemampuannya meredam dan memikul kepedihan.”[1]

Masalah sehari-sehari yang kita temui bisa mengobarkan semangat untuk lebi maju dan memberikan pengabdian. Ketika sang kekasih marah, kita justru selalu berusaha baagimana agar dia ridha. Kita akan berlatih untuk bercengkerama serta berlatih mengungapkan kata-kata romantis dan penuh kemesraan. Masalah keuangan keluarga akan melatih kita prinsip menabung.

Mari kita renungkan kisah-kisah singkat berikut. Ada sebuah keluarga yang anggotanya telah lama berpisah. Akhirnya mereka dapat berkumpul kembali ketika ada salah satu anggita keluarga yang meninggal. Dalam kisah lain disebutkan, seorang anak pergi meninggalkan rumah dan baru merasakan kerinduan kepada orang tuanya ketika dia si perantauan. Anda juga dapat menyaksikan kisah seorang istri yang mengetahui cinta suaminya ketika dia sedang sakit,  atau kisah orang yang diberi cobaan sakit agar dia kembali kepada Tuhannya setelah dia melupakan-Nya, Ibnu Al-Mu’tazz berkata,

Banyak yang tidak engkau inginkan

Menjadi yang engkau dambakan

Segala yang engkau cintai tak pernah tampak

Justru yang engkau benci menjadi tampak

Biarkan masa dan keadilan yang menentukan

Allah telah mengajarkan kepada kita agar tidak menvonis segala peristiwa yang kita hadapi sebelum merenungkan hikmahnya. Karena, mungkin saja kenikmatan dapat menjadi cobaan dan karunia menjadi bencana. Allah Subhanahu  wa Ta’ala berfirman;

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 2: 216)

Kita harus menghadapi setiap masalah dengan hati yang tenang dan prsangka baik. Allah Subhanahu  wa Ta’ala berfiman dalam hadits qudsi, “Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Maka berprasangkalah kepada-Ku sekehendaknya.”

Dalam hal ini, Syaikh Muhammad Al-Ghazali menguggugah hati kita dan membangkitkan semangat kita dengan nasihatnya,

“Sebagian besar kita akan menggugat kondisi yang kita hadapi bahkan menyalahkannya, karena ia menyebabkan kekurangan, ketidakmampuan, dan kejengkelan. Padahal, kesusahan dan kepedihan ibarat tanah yang dapat menumbuhkan kekuatan. Keahlian orang-orang besar tumbuh dari puing-puing kesusahan dan usaha keras. Para tokoh besar dapat bersinar karena adanya situasi yang melingkupinya, hingga dapat membakar semangat jiwanya. Bila mereka hidup sendiri, niscaya sinar mereka akan redup.

Abdul Karim Bakkar berpendapat banyaknya masalah memberikan manfaat yang besar, sebab tanpa adanya masalah, akal manusia tidak akan berguna dan pikiran tidak akan berjalan. Lebih lanjut dia berpendapat “Tidak ada pikiran tanpa adanya masalah. Jika orang pandai dapat mengatasi semua masalah yang dihadapinya, maka kita dapat mengatakan aktivitas berpikirnya telah berhenti saat itu juga.”

Anda hanya berkewajiban menghadapi semua masalah dengan senyuman percaya diri. Hadapilah kehidupan denga jiwa seorang mukmin yang tenang. Jangan sampai masalah-masalah tersebut, membuat Anda kalah. Ambillah senjata dan perlengkapan para tokoh besar yang tabah menghadapi musibah, terutama senjata, “Segala puji bagi Allah. Kita semua adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. Ya Allah, semoga Engkau memberikan pahala dalam musibah yang kami terima dan berilah ganti yang lebih baik dari musibah ini.”

-Ingatlah, kehidupan adalah derita dan harapan suka dan duka. Kebahagiaan murni hanya ada di surga-

Para ulama menyebutkan 6 hal yang dapat meringankan musibah Anda;

1. Ingatlah, segala sesuatu telah ditentukan oleh qadha dan qadhar Allah.

2. Kesedihan tidak akan merubah qadha.

3. Penderitaan yang Anda alami tidak seberapa dibanding penderitaan orang lain.

4. Apa yang Anda peroleh lebih besar dari yang dikorbankan.

5. Dibalik setiap keputusan Allah pasti ada hikmahnya. Jika Anda mengetahuinya, maka itulah inti sebuah kenikmatan.

6. Setiap musibah pasti diiringi oleh pahala , ampunan, ujian, peningkatan derajat, atau terhindar dari musibah yang lebih besar. Segala yang di sisi Allah, tentu lebih baik dan lebih kekal.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku heran dengan urusan orang Mukmin. Semua urusannya selalu baik. Semua itu hanya terjadi pada orang Mukmin saja. Ketika dia memperoleh kebahagiaan, dia bersyukur,maka dia telah memperoleh kebaikan. Ketika dia ditimpa musibah, di sabar, maka dia telah memperoleh kebaikan.” (HR. Muslim)

Pencerahan!

Tanpa kepedihan manusia tidak akan merasakan kenikmatan. Jarang sekali kenikmatan hadir tanpa adanya kepedihan atau sebaliknya.[2]

-Aku merasa jalan itu begitu dekat saat aku menapakinya menuju sang kekasih, namun jauh ketika aku pulang-

[Syahida.com]

Sumber : Kitab Teruntuk Sepasang Kekasih, Karim Asy-Sadzili 

 

[1] Ashdiqa ala al-Waraq

[2] Musthafa as-Siba’i, Hakadza ‘Allamatni al-Hayah.

Share this post

PinIt
scroll to top