Kisah Ibu Pejuang Palestina

Ilustrasi. (Foto: stforum.spacetoon.com)

Ilustrasi. (Foto: stforum.spacetoon.com)

Syahida.com – Putri-putri intifadah itu selamanya tidak takut peluru,

Tidak takut berjuang dan tidak takut ujung tombak

Tidaklah kehidupan gemerlap para biduanita menjadi himmah (keinginan) mereka

Sungguh aku telah melihat mereka, bahkan aku hampir tidak percaya dengan indera penglihatanku

Aku melihat mereka menyerang tentara (Israil)

Di siang hari yang terang juga tatkala langit tertutup mendung

Mereka menampar wajah-wajah Israil, menyerang mereka

Serta memukul mereka dengan sandal

Tiba-tiba mereka menyaksikan saudara mereka gugur sebagai syahid, jatuh tersungkur di tengah mereka

Lalu mereka melantunkan lagu-lagu

Pembangkit semangat kaum Muslimin

Sedang geraman yang bersumber dari mulut-mulut mereka

Akan berdenting jika

Salah seorang dari keluarga mereka gugur sebagai Syahid

Mereka tumbuh menjadi besar dengan sifat ‘iffah[1]

Mereka berkeyakinan bahwa sifat ‘Iffah itu merupakan kewajiban juga merupakan sunnah Nabi

Senjata mereka adalah sifat ‘Iffah

Ketaatan dan kesabaran mereka

Betapa sering mereka bersabar terhadap

Desingan peluru di atas kepala mereka,

Bersabar menghadapi kondisi susah dan menyedihkan lantaran suami-suami mereka ditangkapi

Mereka tetap bersabar walau

Putra-putra mereka gugur bersama kafilah syuhada

Mereka amat sering menyaksikan peristiwa-peristiwa dahsyat

Yang dapat membuat janin menjadi beruban

Mereka bersabar meski terkena pukulan yang sangat kuat

Semua itu tidak membuat mereka menjadi lemah

Kepada mereka aku persembahkan seribu satu penghormatan

Atas jihad yang telah mereka lakukan

Seorang ibu pejuang berkebangsaan Palestina yang berhati lembut. Allah Subhanahu  wa Ta’ala  menganugerahkan tiga orang putra kepadanya. Ia mendidik dan mengasuhnya dengan baik. Satu putranya menjaga ‘Nyala Api’ HAMAS[2] dan merumuskan jihad Palestina. Putra pertamanya itu adalah Syaikh Ahmad Yasin, ia selalu dicari dimana saja berada.

Putranya yang kedua terbelenggu dengan rantai di penjara Yahudi. Mereka menjatuhkan hukuman penjara kepadanya selama seratus dua puluh tahun, boleh engkau katakan bahwa mereka menjatuhkan hukuman seumur hidup dalam penjara mereka yang kokoh, dan menyiksanya dengan siksaan yang amat pedih.

Putranya yang ketiga juga bernama Ahmad, ia memiliki tekad yang membaja untuk berjihad menyusul kedua saudaranya. Ketika ada orang yang berkata kepadanya, ”Tetaplah tinggal bersama ibumu dan berbaktilah kepadanya!” sang ibu tidak menginginkan putranya itu menjadi anak yang terpenjara di dalam rumahnya sendiri, hidup tetapi bagai orang yang telah mati, menjadi putra yang lemah. Dengan tegas sang ibu berkata bahwa rumah bukanlah tempat tinggalnya, berdiam diri bukanlah pekerjaanya, tetapi tempat tinggalnya medan jihad dan istisyahd (mencari mati syahid) untuk membela umatnya, serta membebaskan bumi Palestina dari penjajahan.

Lahirnya Seorang Syahid

Ibu pejuang itu mengajarkan Jihad kepada putranya, memberikan minum dengan cangkir syahadah (mati syahid), mengadakan upacara besar seakan sang putra akan di anugerahi mahkota pertanda bahwa dirinya menjadi raja. Kemudian sang putra berangkat menuju sarang musuh, sarang setan untuk berperang melawan para penjajah yang telah mencuri tanah Palestina, melecehkan harga diri kaum Muslimin, merusak sawah ladang serta merusak tanaman zaitun. Sang anak mulai memasuki sarang musuh membawa tujuh geranat dan enam penyimpan klashnikop. Ketika mendekati sarang musuh ia menelpon sang ibu. Lalu sang ibu berkata, “Aku serahkan urusanku kepada Tuhanku, mohonlah pertolongan kepada Allah Subhanahu  wa Ta’ala.”

Lalu sang putra meneruskan melewati pagar-pagar sarang musuh dan memasukinya. Sang putra kembali menghubungi ibunya dan berkata, “Ibu, aku sudah berada di depan pintu sarang setan.”

Sang ibu berkata dengan lantang, “Terus maju ke depan, jangan lihat ke belakang, surga menanti kita, Allah Subhanahu  wa Ta’ala akan mempertemukan kita kembali dalam surga yang penuh dengan anugerah dan kasih sayang-Nya, insya Allah.”

Kemudian dengan keberanian Ali, keteguhan Umar, keyakinan Abu Bakar, dan ketegaran Utsman, sang putra menyerang musuh-musuh, pelaku dosa, kaum Yahudi keturunan monyet dan babi. Ia berhasil membunuh lebih dari enam belas orang Yahudi. Kita yakin ia gugur sebagai syahid di sisi Tuhan-Nya.[3] [Syahida.com]

 

[1] ‘Iffah artinya menjauhi hal-hal yang tidak baik dan hal-hal yang diharamkan

[2] HAMAS adalah singkatan dari Harakah al-Muqawamah al-Islamiyyah yang berarti Gerakan Perlawanan Islam, -Penerj.

[3] Ditulis oleh: DR. Jasim ibn Muhammad ibn Muhalhil Al Yasin. Majalah “Waladi” edisi ke- 45, Agustus 2002 M.

Sumber: Jilbabku Pesonaku, Dr. Muhammad Fahd ats-Tsuwaini

Share this post

PinIt
scroll to top