Kisah Nabi Yusuf (Bagian Ke-4) : Yusuf Dilempar ke Dalam Sumur

Ilustrasi. (Foto : cahayainsani.com)

Ilustrasi. (Foto : cahayainsani.com)

Syahida.com – 12:15

12:16

12:17

12:18

Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkan dasar sumur, Kami mewahyukan kepadanya, ‘Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.’ Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada petang hari sambil menangis. Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami! Sesungguhnya, kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.’ Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Ya’qub) berkata, ‘Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan’.” (Yusuf: 15-18).

Mereka terus mendesak ayah mereka hingga akhirnya si ayah membiarkan Yusuf pergi bersama mereka. Begitu mereka sudah jauh dan tidak terlihat oleh sang ayah. Mereka langsung mencela dan memperlakukannya secara hina, baik dengan tindakan maupun ucapan.

Mereka sepakat untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur. Maksudnya, di tengah batu besar yang ada di dalam sumur ketika airnya surut, tempat yang menjadi pijakan turun ke dalam sumur guna mengambil air saat airnya, atau dengan timba.

Setelah mereka memasukkan Yusuf ke dalam sumur, Allah memberi ilham kepada Yusuf, “Pasti ada jalan keluar bagimu dari kesulitan yang kau hadapi ini. Kelak, kau akan memberitahukan perbuatan ini kepada saudara-saudaramu saat kau telah menjadi seorang penguasa, saat mereka memerlukan bantuanmu dan takut padamu, “Sedang mereka tidak menyadari.”

Mujahid dan Qatadah menyatakan, “Sedang mereka tidak menyadari ilham yang Allah berikan kepadamu.” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Sedang mereka tidak menyadari,” yaitu kelak kau akan memberitahukan hal ini kepada mereka, saat mereka tidak mengenalimu (HR. Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas).

Setelah diletakkan di dalam sumur, mereka pulang meninggalkannya, mereka mengambil bajunya lalu mereka lumuri dengan darah, mereka pulang pada petang hari dengan menangisi Yusuf. Karena itu sebagian salaf menyatakan, “Jangan tertipu oleh tangisan orang yang berpura-pura dizalimi, karena bisa jadi yang menangis justru orang yang berbuat lalim,” setelah itu ia menyebut tangisan saudara-saudara Yusuf. Mereka pulang menemui ayah mereka pada petang hari dengan menangis, yaitu di tengah gelapnya malam, agar selaras dengan pengkhianatan yang mereka lakukan, bukan alasan yang mereka kemukakan.

Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami! Sesungguhnya, kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami,” yaitu di dekat baju-baju kami, “Lalu dia dimakan serigala,” yaitu saat kami tidak melihatnya karena kami tengah bermain kejar-kejaran. “Dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar,” yaitu kau tentu tidak percaya kepada kami terkait apa yang kami sampaikan kepadamu bahwa Yusuf dimakan serigala, meski kami tidak engkau curigai. Lalu bagaimana engkau menuduh kami (berbuat jahat) dalam keadaan ini? Sebelumnya, engkau khawatir jika Yusuf dimakan serigala, lalu kami berjanji kepadamu Yusuf tidak akan dimakan serigala karena jumlah kami banyak, lalu kami menjadi tidak dipercaya. Ayah bisa dimaklumi jika tidak percaya kepada kami karena kondisinya memang seperti itu.

Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu,” yaitu darah dusta yang dibuat-buat, karena mereka menyembelih seekor kambing, lalu mereka ambil darahnya dan mereka lumurkan di baju Yusuf untuk mengelabui ayah mereka bahwa Yusuf benar-benar telah dimakan serigala. Para mufasir menyatakan, “Mereka lupa tidak merobek-robek baju itu, karena petaka dusta adalah lupa.” Saat tanda-tanda kecurigaan nampak, ayah mereka mulai memahami apa sebenarnya yang telah mereka perbuat, karena sang ayah mengerti betul mereka memusuhi dan dengki terhadap Yusuf.

Hal ini karena sang ayah lebih mencintainya melebihi mereka, mengingat Yusuf sudah memiliki tanda-tanda keluhuran dan wibawa  besar sejak ia masih kecil, di samping nubuwat  yang akan Allah berikan kepadanya secara khusus, juga karena mereka merayu sang ayah untuk membawa pergi Yusuf. Begitu mereka berhasil membawa Yusuf pergi, mereka segera menghilangkan dan melenyapkan Yusuf agar tidak lagi terlihat di mata ayahnya, setelah itu mereka pulang dengan pura-pura menangis. Juga karena persengkongkolan dan kesepakatan jahat yang mereka lakukan. Karena itu Ya’qub berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu, maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”

Menurut versi Ahli Kitab, Rubil menyarankan untuk meletakkan Yusuf di dalam sumur agar setelah itu Rubil ambil kembali tanpa disadari oleh saudara-saudara lainnya, dan setelah itu ia kembalikan lagi kepada ayahnya. Namun mereka lalai dan menjual Yusuf kepada kafilah dagang yang berlalu. Setelah itu Rubil kembali ke sumur tersebut pada sore hari untuk mengeluarkan Yusuf, ternyata Yusuf sudah tidak ada. Rubil berteriak dan merobek bajunya. Mereka kemudian menghampiri seekor kambing lalu mereka sembelih, darah kambing itu kemudian mereka lumurkan ke baju Yusuf. Saat Ya’qub diberitahu, ia merobek bajunya dan mengenakan sarung hitam, larut dalam kesedihan selama berhari-hari karena kehilangan Yusuf.

Kisah lemah ini bersumber dari kekeliruan Ahli Kitab dalam menuturkan dan menggambarkan kisah sebenarnya.

12:19

12:20

12:21

Dan datanglah sekelompok musafir, mereka menyuruh seorang pengambil air. Lalu dia menurunkan timbanya. Dia berkata, ‘Oh senangnya, ini ada seorang anak muda!’ Kemudian mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya. Dan orang dari Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya. ’”erikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak”. Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. (Yusuf : 19-21). [Syahida.com]

===========

Bersambung……

Sumber : Kitab Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, Kisah 31 Nabi dari Adam Hingga Isa, Versi Tahqiq

Share this post

PinIt
scroll to top