Saat Musibah Menimpa Orang Beriman, Niscaya Allah Akan Memberi Petunjuk Kepada Hatinya

Ilustrasi. (Foto: theodysseyonline.com)

Ilustrasi. (Foto: theodysseyonline.com)

Syahida.com – “……..Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Ini adalah sebuah kaidah (prinsip pokok ajaran) Al Qur’an yang muhkam (bermakna jelas), di mana kita membutuhkannya setiap waktu, khususnya ketika manusia diuji dengan salah satu musibah yang cukup menganggu, dan alangkah banyaknya hal itu di zaman ini.

Kaidah (prinsip pokok ajaran) Al Qur’an ini disebutkan dalam ayat yang mulia dalam Surat at-Taghabun.

Allah berfirman di sana,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّـهِ ۗوَمَن يُؤْمِن بِاللَّـهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّـهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿١١

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11).

Ayat ini -sebagaimana tampak nyata dan jelas- menunjukkan bahwa tidak ada satu pun musibah, apa pun bentuknya, baik itu dalam jiwa, harta, anak, kerabat, dan hal yang semisalnya, kecuali semuanya terjadi dengan Qadha’ dan Qadar Allah, dan bahwa hal itu (terjadi) dengan pengetahuan dan izin-Nya yang berkaitan dengan takdir, telah tercatat dengan pena takdir, kehendak (Allah) terlaksana, dan sebagai konsekuensi hikmah. Dan kondisi ini berlaku di setiap kondisi, apakah seorang hamba harus melaksanakan kewajibannya berupa ibadah sabar dan berserah diri -yang hukum- nya wajib-, kemudian ridha terhadap Allah?! Walaupun ridha tidaklah wajib, melainkan hanya sunnah saja.

Renungkanlah bagaimana Allah Ta’ala mengaitkan petunjuk hati kepada iman; hal itu karena pada dasarnya orang Mukmin itu diliputi keimanan dalam menerima berbagai musibah dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh syariat berupa jauh dari sikap tidak sabar dan berkeluh kesah, seraya berpikir bahwa kehidupan ini tidak bisa terlepas dari rintangan dan hal yang mengeruhkan kehidupan.

Dan sebagaimana ini adalah konsekuensi keimanan, maka dalam kaidah (prinsip pokok) ini, وَمَن يُؤْمِن بِاللَّـهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”, terdapat isyarat kepada perintah untuk tegar dan  sabar ketika musibah menimpa; karena penunjukan Allah terhadap hati orang Mukmin ketika musibah, berkonsekuensi memotivasi orang-orang Mukmin agar mereka tegar dan sabar ketika musibah tersebut datang. Oleh karena itu, ayat ini ditutup dengan kalimat, “Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” 1

Penutup yang indah dengan kalimat, وَاللَّـهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”, membuat orang Mukmin bertambah tenang dan lega disebabkan penjelasan tentang luasnya pengetahuan Allah, dan bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya dari apa saja yang terjadi, bahwasanya Dia adalah Yang paling mengetahui apa saja yang sesuai dengan keadaan dan hati hamba serta apa yang baik baginya, baik secara cepat maupun lambat, di dunia dan akhirat. Orang Mukmin membaca ini seraya menghayati sabda Nabi SAW,

Alangkah menakjubkannya perkara orang Mukmin! Sesungguhnya semua perkaranya baik, dan hal itu tidak dimiliki seorang pun kecuali orang Mukmin; apabila dia dihinggapi sesuatu yang menggembirakan, dia bersyukur, maka hal itu baik baginya, dan apabila dia ditimpa kesusahan, dia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” 2

Aun bin Abdullah bin Utbah berkata, “Sesungguhnya Allah memaksa hambaNya kepada musibah; sebagaimana keluarga orang yang sakit memaksa orang yang sakit di antara mereka, dan keluarga anak kecil (memaksa) anak kecil mereka untuk (minum) obat, mereka berkata, ‘Minumlah ini, karena pada kesudahannya terdapat kebaikan bagimu’.” 3

Dan marilah kita kembali kepada kaidah (prinsip pokok) ini, وَمَن يُؤْمِن بِاللَّـهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya,” yang merupakan pokok pembicaraan kita.

Terdapat kalimat bercahaya yang diucapkan oleh as-Salaf dalam komentar mereka terhadap makna kaidah ini, dan marilah kita mulai dengan sang ulama umat dan penerjemah Al-Qur’an -Ibnu Abbas r.a- di mana beliau r.a berkata tentang firman Allah Ta’ala , وَمَن يُؤْمِن بِاللَّـهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”,

“(yakni), menunjuki hatinya kepada keyakinan, sehingga dia mengetahui bahwa apa saja yang  (sudah ditakdirkan) menimpanya tidak akan meleset darinya, dan apa saja yang tidak ditakdirkan-Nya, tidak akan menimpanya.” 4

Al Qamah bin Qais berkata tentang kaidah ini, وَمَن يُؤْمِن بِاللَّـهِ يَهْدِ قَلْبَهُ “Barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”,

“Yang dimaksud adalah seseorang yang tertimpa musibah, dan dia mengetahui bahwa hal itu (datang) dari sisi Allah, sehingga di pun berserah diri dan ridha.”

Abu Utsman al-Hiri berkata, “Barangsiapa yang shahih (benar) Imannya, niscaya Allah menunjuki hatinya untuk mengikuti as-Sunnah.” 6

Ilustrasi. (Foto: hdwallpapers.in)

Ilustrasi. (Foto: hdwallpapers.in)

Datangnya kaidah ini dalam konteks seperti ini memiliki beberapa petunjuk penting, dan di antara yang paling menonjol adalah:

(1). Mendidik hati agar menerima takdir-takdir Allah yang menyakitkan sebagaimana telah dijelaskan.

(2) Bahwa di antara hal yang dapat membantu menerima musibah-musibah ini dengan santai dan tenang adalah: Iman yang kuat terhadap Rabb semesta alam, ridha terhadap Allah Ta’ala di mana dia percaya dan tidak ragu lagi -sementara dia hidup dalam musibah – bahwa pilihan Allah lebih baik daripada pilihannya sendiri, dan bahwa kesudahan yang baik akan menjadi miliknya selama dia adalah Mukmin sejati, karena Allah Ta’ala tidak membutuhkan ketaatan hamba-hamba(Nya), juga tidak (membutuhkan) untuk menguji mereka! Bahkan di balik musibah terdapat suatu hikmah, bahkan banyak hikmah dan rahasia besar yang tidak diketahui oleh manusia; jika tidak begitu, maka apa yang dipahami orang Mukmin ketika mendengar sabda Nabi SAW,

“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisal (dengan mereka), kemudian orang yang semisal (dengan mereka).” 7

Dan apa yang terlintas di benak manusia ketika dia membaca buku-buku sirah dan sejarah tentang berbagai cobaan yang menimpa para imam Agama ini?!

Jawabannya secara singkat, bahwa beban-beban hidup tidak mungkin mampu dipikul oleh orang-orang-orang yang suka bercanda, dan seseorang jika dia memiliki barang berat yang ingin dia pindahkan, pastilah dia tidak akan mempekerjakan anak-anak kecil, orang sakit, atau orang-orang lemah; tetapi dia akan memilih orang-orang yang memiliki pundak yang keras dan pundak yang kuat! Demikian juga kehidupan, tidak ada yang bisa bangkit dengan risalah (tugas)nya yang besar dan tidak ada yang dapat memindahkannya dari satu fase ke fase berikutnya kecuali orang-orang yang kuat dan para pahlawan yang sabar! 8

Terapi Al Qur’an ini harus diikuti juga dengan memperhatikan perjalanan hidup orang-orang shalih umat ini dan umat lainnya, yang mana mereka itu ditimpa musibah lalu mereka bersabar, lalu mereka pun mendapat kemenangan, dan mereka menemukan pengaruh ridha dan berserah diri karena petunjuk yang Allah tanamkan dalam hati mereka. Mereka menerima takdir-takdir Allah yang menyakitkan, dan orang yang diberi petunjuk (oleh Allah) adalah orang yang bersikap ketika musibah datang dengan apa yang ditunjukkan oleh Allah dan RasulNya SAW.

Maka setelah itu: Mengapa sebagian dari kita merasa marah dan sakit hati karena kejadian yang terjadi beberapa tahun yang lalu?! Mengapa salah seorang dari kita membuka kembali file pernikahan yang gagal sebelum terjadinya akad (nikah yang terjadi) beberapa waktu yang lalu?! Atau (terus mengingat) transaksi bisnis yang mengalami kerugian, atau saham-saham yang merugi dalam perdagangannya?! Seolah-olah dengan hal itu dia ingin memperbaharui kesedihan-kesedihannya!!

Maka wahai setiap orang yang terkena musibah:

Bersabarlah terhadap takdir yang didapatkan (olehmu)

Dan relalah dengannya

Walaupun takdir itu datang kepadamu

Membawa apa yang tidak kamu inginkan [Syahida.com/ANW]

—–

1 Lihat at-Tahrir wa at-Tanwir, 28/251.

2 Diriwayatkan oleh Muslim, No. 2999.

3 Hilyah al-auliya, 4/252.

4 Tafsir ath-Thabari, 23/421.

Tafsir ath-Thabari, 23/421.

6 Tafsir al-Qurthubi, 18/139.

7 Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, No. 2398; Ibnu Majah, No. 4023; Ibnu Hibban, No. 699, 7000; dan disahihkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dan lainnya, mungkin hal itu karena ia memiliki beberapa syahid. (Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah, No. 143. Ed. T).

8 Khuluq al-muslim, hal. 133-134, dengan diringkas.

===

Sumber: (Sumber: Kitab 50 Prinsip Pokok Ajaran Al Qur’an Bekal Membangun Jiwa yang Kuat dan Pribadi yang Luhur, Karya: Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, Penerjemah: Abdurrahman, Lc. , penerbit: Darul Haq)

Share this post

PinIt
scroll to top