Sesungguhnya Allah Tidak Akan Mengampuni Dosa Syirik, dan Dia Mengampuni Segala Dosa yang Selain dari Syirik

kaligrafi-13Syahida.com

إِنَّ اللَّـهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّـهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa’: 116)

Pada ayat 48, firman Allah yang serupa ini telah tersebut juga:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 48)

Bahwa segala dosa dapat diampuni Allah bagi siapa yang Allah kehendaki, tapi dosa mempersekutukan yang lain dengan Dia, tidaklah dapat Allah mengampuni. Cuma ujungnya yang berlain. Ujung ayat 48 mengatakan bahwa orang yang mempersekutukan yang lain dengan Allah, adalah mengarang-ngarang dosa dengan dusta, atau mengadakan hal yang tidak-tidak. Ujung ayat ini mengatakan bahwa orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lain, sesatlah dia; sesat yang amat jauh.

Setengah ahli tafsir menyatakan pendapat bahwa ayat 116 adalah untuk memperkuat ayat 48. Setengah ahli tafsir lagi berpendapat bahwa ayat 116 ini masih ada sangkut pautnya dengan keterangan Thu’mah yang memfitnah Yahudi itu. Sebagai orang yang telah mengaku diri beragama Islam, masih saja memfitnah orang yang tidak bersalah, kalau dihalusi dengan saksama, adalah musyrik juga. Sebab dia telah memperturutkan perdayaan setan dengan Allah. Dia telah mempersekutukan setan dengan Allah. Baca kembali ayat 48 dan gabungan dengan ayat-ayat yang sebelum dan sesudahnya. Niscaya kelihatan bahwa ayat 48 adalah teguran kepada Ahlul Kitab, baik Yahudi maupun Nasrani. Mereka mempersekutukan yang lain dengan Allah adalah karena mengarang-ngarang dusta, mengkhayalkan yang tidak-tidak, sebab itu mereka berbuat dosa besar melantur keluar dari ajaran agama mereka yang sejati dan asli. Orang yang mengakui telah Islam pun bisa pula lagi musyrik, mempersekutukan yang lain dengan Allah karena hawa nafsunya. Di ayat 48 jelas kemurkaan Allah karena mengarang-ngarang  yang bukan berasal dari ajaran agama. Inilah yang dimaksud dalam ujung surah a-Faatihah, yaitu al-Maghdhubi ‘Alaihim. Sekarang ayat 116 menerangkan orang musyrik yang tersesat atau Dhalalan Ba’idan, sesat yang jauh sekali. Yang disebut di akhir surah al-Faatihah adh-Dhaallin.

Penafsiran yang kedua ini, yaitu mengenai orang yang telah mengakui Islam, padahal terperosok kepada syirik sebagaimana terjadi pada si Thu’mah, yang tadinya telah mengakui Islam, dapat lebih dikuatkan lagi oleh suatu riwayat Ibnu Abbas yang menerangkan sebab turun ayat 116 ini, menurut yang dirawikan oleh ats-Tsalabi, yang kelak akan kita salinkan.

Di sini Allah menjelaskan kepada manusia bahwa Allah tidak dapat memberi ampun kepada seorang pun yang mempersekutukan yang lain dengan Dia. Bahwa Dia dapat mengampuni dosa yang lain, selain syirik. Kalau kita selidiki lebih mendalam dengan memakai ilmu jiwa, siksaan Allah atau satu dosa adalah akibat yang wajar dari dosa itu sendiri. Dia adalah bekas dari sifat buruk yang ada dalam diri. Pada badan kita sendiri dapatlah kita ambil perumpamaan. Kita dapat ditimpa oleh suatu penyakit yang datang dari luar. Kita bisa luka karena pisau, kita bisa mendapat eksim (kudis atau kadal) Apabila lekas ditukas dengan obat yang telah ditentukan dokter. Insyaa Allah kita bisa lekas sembuh. Tetapi kalau penyakit itu terletak dalam jantung atau paru-paru, atau telah menjalar dalam pembuluh darah, karena penyakit itu telah berurat berakar di dalam, payahlah menyembuhkannya, sebab orang itu telah berdiri di pintu maut. Tauhid, mengesakan Allah adalah kepercayaan yang membuat kekuatan dan keteguhan bagi ruhani kita. Kalau dimisalkan kepada badan kita. Tauhid adalah laksana kesehatan dan kekuatan badan, cukup kalori, vitamin, dan sebagainya. Badan yang seperti ini meskipun kadang-kadang diserang penyakit, namun penyakit itu dapat dikalahkan oleh kekuatan badan itu, dapat ditangkisnya sehingga penyakit itu sendiri yang kalah dan terusir. Maka ruh menjadi kuat karena pegangan tauhid, udara dalam diri menjadi seimbang. Iman dan perangai-perangai utama yang timbul karena tidak tahu atau lupa, lalu tobat dengan segera.

Tetapi betapa pun kuat badan, kalau penyakit itu menyerang jantung, tidaklah dapat menangkis. Demikian jugalah halnya dengan penyakit syirik menyerang jiwa. Syirik adalah kerusakan jiwa dan kerendahan diri dan kesesatan akal. Betapa pun syirik itu diimbangi dengan perbuatan baik, tidaklah perbuatan baik itu kuat menangkis serangan syirik yang telah merusak seluruh jiwa. Tauhid membawa jiwa mi’raj ke sisi Allah, terlepas dari tetek-bengek alam yang sama belaka asalnya dengan kita. Tidak ada alam yang memberi bekas. Roh yang ditimpa atau diserang oleh penyakit syirik terhalang mi’raj ke sisi Allah. Dia terikat oleh tetek-bengek benda.

Orang bertauhid merasakan dirinya sebagai hamba dari Tuhannya. Seorang hamba menyatakan taat dan setia kepada Allah yang menguasai dirinya. Mungkin sekali-kali dia terlanjur berbuat salah, tetapi tidak ada niatnya hendak lari dari Allah yang menguasainya. Adapun orang yang musyrik cintanya terbagi, taat setia terpecah. Dia mengakui ada lagi  penghulu lain yang menguasai dirinya, padahal yang membelinya hanya yang satu itu jua dan menguasainya tidak bersyarikat. Penghulu yang menguasainya itu bisa memaafkan kalau dia bersalah, tetapi tidaklah akan dimaafkannya, kalau dikatakan bahwa orang  lain ada pula yang menguasainya. Sebab itu datanglah sambungan penegasan dari Allah,

“……………..Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa’: 116)

Sesat yang amat jauh! Keterangan ayat ini akan lebih tepat kalau kita berpikir dari segi logika dan ilmu ukur. Garis lurus ialah jarak yang paling dekat di antara dua titik. Adapun garis paralel selama-lamanya tidaklah akan bertemu ujungnya selamanya, sedang diri yang akan melalui jalan itu hanya satu, bagaimana jadinya? Apakah jiwa dibelah dua, atau dipecah jadi banyak? Atau pindah dari jalan lurus kepada jalan bersilang-siur? Laksana orang sesat di hutan belantara, jadi kebingungan karena tidak tahu jalan. Sebab itu ketika menafsirkan ayat yang serupa dahulu (ayat 48), telah diterangkan bahwa satu dosa besar tidaklah mungkin diperbuat, melainkan setelah orang menjadi musyrik. Syirik adalah pintu dari segala dosa, sebab diri telah tersesat jauh dari garis yang ditentukan Allah.

Menurut riwayat yang dirawikan oleh ats-Tsalabi yang diterimanya dari Ibnu Abbas, sebab turunnya ayat ini adalah demikian “Pada suatu hari datanglah seorang tua kepada Rasulullah SAW., lalu berkata kepada beliau, “Saya adalah seorang tua yang telah terbenam dalam dosa. Tetapi tidaklah pernah saya mempersekutukan yang lain dengan Allah, sejak saya mengenal Allah dan sejak saya beriman kepada-Nya, dan tidaklah pernah saya mencari tempat berlindung selain Dia. Tidaklah pernah saya terjerumus ke dalam suatu maksiat dengan sengaja melanggar: Tidaklah pernah sekejap mata pun saya lupa bahwa saya dapat melarikan diri dari kemurkaan Allah. Saya menyesal atas kesalahan saya, dan saya bertobat. Ya Rasul Allah! Bagaimana kiranya pandangan Allah terhadap diriku?”

Tiba-tiba sedang Rasulullah mendengar keluhan orang tua itu, ayat ini pun turunlah. Keluhan orang tua ini kepada Rasulullah yang menyebabkan turunnya ayat. Agar dengan giat dan sadar kita mendekati Allah dengan memupuk tauhid dan menjauhi syirik. Sebab keluhan ini pun ada pada kita. [Syahida.com/ANW]

==

Sumber: Kitab Tafsir Al-Azhar, Jilid 2, Karya: Prof. DR. Hamka, Penerbit: Gema Insani

Share this post

PinIt
scroll to top