Peringatan Agar Waspada dari Ulama Suu’ (Jahat/Buruk) dan Ahli Ibadah yang Sesat

Ilustrasi. (Foto: avominne.fi)

Ilustrasi. (Foto: avominne.fi)

Syahida.com – 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّـهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّـهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,(QS. At-Taubah: 34)

As-Suddi berkata: “(Istilah) al-ahbar berasal dari orang-orang Yahudi, sedangkan ar-Ruhban berasal dari orang-orang Nasrani.” 1 Itulah sebabnya ia katakan bahwa al-ahbar artinya ulama-ulama kaum Yahudi, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?” (QS. Al Maidah: 63) Sedangkan ar-Ruhban adalah ahli-ahli ibadah dari kaum Nasrani; dan al-qissis adalah ulama mereka, sebagaimana firman-Nya: “Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib.” (QS. Al-Maidah: 82).

Maksud dari penyebutan mereka dalam ayat di atas adalah peringatan dari ulama yang jahat dan ahli ibadah yang sesat. Sebagaimana perkataan Sufyan bin ‘Uyainah: ‘Siapa yang rusak dari ulama-ulama kita, maka padanya terdapat banyak keserupaaan dengan kaum Yahudi, dan siapa yang rusak dari ahli ibadah kita, maka padanya terdapat banyak keserupaan dengan kaum Nasrani.” Dalam hadits shahih disebutkan:

“Sungguh kalian akan mengikuti/meniru tradisi-tradisi orang-orang sebelum kalian, sepanjang anak panah demi sepanjang anak panah.”

Para Sahabat bertanya: “(Apakah yang dimaksud ummat sebelum kami adalah) orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Lantas siapa lagi?” Dalam satu riwayat: Apakah mereka itu orang-orang Persia dan Romawi?” Beliau menjawab: “Manusia mana lagi kalau bukan mereka?” 2

Intinya, ayat ini berisi peringatan agar tidak meniru-niru dalam hal perkataan dan keadaan mereka. Karena itu Allah Ta’ala berfirman: { لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّـهِ } “Benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” Yang demikian disebabkan mereka menikmati dunia dengan (menyalahgunakan) agama, kedudukan, dan kepemimpinan mereka di tengah-tengah manusia. Mereka memakan harta manusia dengannya. Sebagaimana ulama-ulama Yahudi di zaman jahiliyah, mereka memiliki kehormatan di tengah masyarakat saat itu. Selain itu mereka menerima hadiah-hadiah dan pajak dari mereka. Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala. mengutus Rasul-Nya, mereka tetap teguh dalam kesesatan, kekufuran, dan pembangkangan mereka, karena tidak ingin kekuasaan dan kepemimpinan itu sirna dari mereka. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memadamkannya dengan cahaya kenabian dan mencabutnya dari mereka serta menggantikannya dengan kehinaan, kerendahan, dengan terus menerus mendapatkan kemurkaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan firman-Nya: {وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّـهِ } “Dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” Maksudnya, selain mereka memakan harta yang haram, juga menghalang-halangi manusia dari mengikuti kebenaran, dan menyamarkan kebenaran dengan kebathilan. Di hadapan para pengikut mereka yang awam, terkesan bahwa mereka adalah penyeru kepada kebaikan, padahal sebenarnya tidak seperti itu. Bahkan sesungguhnya mereka adalah para penyeru kepada api Neraka, dan di hari Kiamat mereka tidak akan ditolong. [Syahida.com/ANW]

Catatan kaki:

1 Ath-Thabari (XIV/216)

2 Asy-Syarii’ah, hal. 18.

===

Sumber: Kitab Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 4, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir

Share this post

PinIt
scroll to top