Aku Berlindung Kepada Rabb, Raja Manusia, dari Bisikan Syaitan yang Biasa Bersembunyi

bisikan-2Syahida.com

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَـٰهِ النَّاسِ ﴿٣﴾مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦

“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.(QS. An-Naas : 1-6)

Ini adalah tiga sifat dari sifat-sifat Allah SWT, yaitu: Rububiyah (Allah sebagai Rabb), al-Mulk (Allah sebagai Raja) dan Ilahiyah (Allah sebagai sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar). Dia-lah Rabb, Sang Raja dan Sesembahan bagi segala sesuatu. Segala sesuatu adalah makhluk ciptaan-Nya, milik-Nya, dan hamba-Nya.

Lalu Dia SWT menyuruh orang yang berlindung agar berlindung dengan Sang Pemilik sifat-sifat tersebut dari kejahatan bisikan syaitan yang bersembunyi. Yaitu syaitan yang ditugasi menggoda manusia. Karenanya tidak ada seorang pun dari manusia kecuali dia mempunyai (qarrin = setan yang menyertai), yang menghiasi perbuatan keji kepadanya (sehingga terkesan baik) dan dia tidak mengenal lelah dalam melakukannya. Orang yang terjaga adalah orang yang dijaga oleh Allah.

Dalam Shahiih Muslim disebutkan hadits:

“Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali telah diutus kepadanya pendampingnya (qarrin dari kalangan jin).” Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Termasuk juga aku, hanya saja Allah menolongku atasnya sehingga qarrin tersebut masuk Islam,  maka ia hanya memerintahkanku kepada kebajikan.” 1

Disebutkan dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim dari Anas r.a tentang kunjungan Shafiyyah kepada Nabi SAW yang sedang i’tikaf. Kemudian beliau keluar bersamanya pada malam hari untuk mengantarnya pulang ke rumahnya. Lalu beliau bertemu dengan dua orang dari kaum Anshar. Ketika mereka melihat Nabi SAW, mereka bergegas pergi. Lalu Rasulullah SAW bersabda:

“Tunggu dulu (hendaknya kalian berdua tetap di tempat), sesungguhnya dia ini Shafiyah binti Huyay.” Lalu mereka berkata, “Mahasuci Allah, wahai Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya syaitan itu mengalir dalam tubuh manusia seperti aliran darah. Dan sesungguhnya aku khawatir ia membisiki sesuatu di hati kalian berdua.” Atau beliau berkata, “Membisiki kejahatan.” 2

Sa’id bin Jubair berkata dari Ibnu ‘Abbas r.a tentang firman-Nya, { الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ } “(Bisikan) syaitan yang bersembunyi,” bahwa syaitan itu bertengger di hati manusia. Apabila manusia lalai dan lupa, maka ia membisikinya. Akan tetapi apabila manusia mengingat Allah, maka ia bersembunyi. 3 Mujahid dan Qatadah juga berkata demikian. 4

Al-Mu’tamir bin Sulaiman berkata dari ayahnya, “Dikatakan kepadaku bahwa syaitan yang suka membisiki itu meniup di hati manusia ketika bersedih dan tatkala bergembira. Apabila manusia mengingat Allah, maka ia bersembunyi.” 5

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas r.a menafsirkan ayat, { الْوَسْوَاسِ } “(Bisikan) syaitan.” Yakni: Syaitan itu menyuruh (kepada kejahatan), apabila ia ditaati (sehingga orang tersebut berbuat kejahatan), maka syaitan itu bersembunyi (melepaskan diri). 6

Selanjutnya tentang firman Allah SWT, { الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ } “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,” apakah ayat ini khusus untuk manusia sebagaimana yang nampak jelas dari sisi redaksinya, atau berlaku umum untuk golongan manusia dan golongan jin? Dalam hal ini ada dua pendapat, yakni: 1) khusus manusia atau 2) termasuk juga golongan jin.

Menurut pendapat yang kedua, golongan jin termasuk ke dalam kata النَّاسِ (manusia) dalam konteks generalisasi. Ibnu Jarir berkata (mendukung pendapat kedua), “Dalam al-Qur-an disebutkan kata rijaalumminnaas (beberapa laki-laki dari golongan jin). Kata “Rijaal” telah digunakan pada mereka (jin), 7 maka tidak menjadi masalah menggunakan kata an-naas ‘manusia’ untuk golongan jin.” 8

Selanjutnya, firman Allah SWT, { مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ } “Dari (golongan) jin dan manusia,” menjelaskan kata النَّاسِ (manusia) pada ayat, “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” Jadi, Allah SWT menjelaskan siapa yang membisikkan kejahatan tersebut, dengan firman-Nya, “Dari (golongan) jin dan manusia.” 9 Tafsir ini memperkuat pendapat yang kedua (yang mengatakan bahwa lafazh النَّاسِ pada ayat { الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ } berlaku umum untuk manusia dan jin).

Ada yang berpendapat bahwa ayat, “Dari (golongan) jin dan manusia,” merupakan tafsir dari lafazh الَّذِي (yang) membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia. 10 Ini sebagaimana firman Allah SWT,

“Dan demikianlah untuk setiap Nabi, Kami menjadikan musuh yang terdiri dari syaitan-syaitan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.” (QS. Al-An’aam: 112).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Seseorang datang kepada Nabi SAW, lalu ia mengadu, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar berbicara dengan sesuatu (kepada diriku), di mana tersungkurnya aku dari langit lebih aku sukai daripada berbicara dengannya.” Nabi SAW bersabda:

“Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan tipu daya (syaitan itu) kepada bisikan (saja). 1112 Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa-i. 13

Demikianlah akhir dari (tafsir surat an-Naas) dan tafsir al-Quran. Hanya milik Allah SWT-lah segala puji dan anugerah. Dan segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. [Syahida.com/ANW]

Catatan Kaki:

1 Muslim (IV/1167). [Muslim (No. 2814)].

2 Fat-hul Baari (IV/326). [Al-Bukhari (No. 2035, 6219,7171)].

3 Ath-Thabari (XXIV/709).

4 Ath-Thabari (XXIV/710).

5 Ath-Thabari (XXIV/710).

6 Ath-Thabari (XXIV/710).

7 [Padahal kata rijaalun itu biasanya digunakan untuk manusia].

8 Ath-Thabari (XXIV/711).

9 [Maksudnya, jin pun tidak luput dari godaan syaitan].

10 [Jadi yang membisikkan kejahatan pada manusia ada dua, yakni dari golongan jin dan dari golongan manusia itu sendiri].

11 [Maksudnya, tipu daya syaitan itu sebatas membisikkan saja. Apabila manusia ingat kepada Allah SWT, dan tidak menghiraukan bisikan itu, maka ia akan selamat. Maka jawaban Rasulullah ini sungguh membuat ketenangan bagi orang itu, dan semoga bagi kita pun demikian].

12 Ahmad (I/235). [Ahmad (No. 2097), sanadnya shahih di atas syarat asy-Syaikhain, Musnad Imam Ahmad, tahqiq Syaikh Syu’aib al-Arna-uth dan kawan-kawan, cetakan Mu-assasah ar-Risalah, Beirut].

13 Abu Dawud (V/336) dan an-Nasa-i dalam al-Kubraa (VI/171). [Abu Dawud (No. 5112) dan an-Nasa-i (No. 10503)].

==

Sumber: Kitab Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 9, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir

Share this post

PinIt
scroll to top