Tidak Ada yang Lebih Merusak Amal daripada Ujub dan Membanggakan Diri

Ilustrasi. (Foto: thinkpositiveproject.com)

Ilustrasi. (Foto: thinkpositiveproject.com)

Syahida.com – Ibnu Sa’d menyebutkan di dalam Ath-Tahbaqat, dari Umar bin Abdul Aziz, bahwa jika dia sedang berpidato lalu dia mengkhawatirkan ujub terhadap dirinya, maka dia menghentikan pidatonya. Jika dia sedang menulis surat dan mengkhawatirkan ujub terhadap dirinya, maka dia merobek surat itu, seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku.”

Ketahuilah bahwa jika hamba menetapkan suatu perkataan atau perbuatan karena mengharapkan keridhaan Allah, mengharapkan karunia dan taufik-Nya, merasa bahwa perkataan atau perbuatan itu bukan berasal dari dirinya, ma’rifah, pikiran, daya dan kekuatannya, bahkan bukan berasal dari lidah, hati, mata dan telinganya, maka orang seperti inilah yang perkataan dan perbuatannya dikaruniai Allah.

Jika yang demikian itu tidak lepas dari perhatian dan pandangan hatinya, maka ujub tidak akan muncul di dalam dirinya, yang pangkalnya adalah kesenangan melihat dirinya dan tidak mau memandang karunia Allah, taufik dan pertolongan-Nya. Jika dia tidak mempunyai pandangan seperti itu, maka jiwanya akan bergolak, membuat pengakuan-pengakuan atas dirinya membanggakan diri, sehingga perkataan dan perbuatannya menjadi rusak. Padahal tidak ada yang sempurna pada dirinya, yang kemudian dia tidak mau melihat karunia dan taufik. Atau boleh jadi ada kesempurnaan pada dirinya, tetapi tidak akan menghasilkan apa-apa. Kalaupun ada buah yang dihasilkannya, maka itu merupakan buah yang lemah, tidak menghantarkan kepada maksud. Atau terkadang justru menimbulkan mudharat yang lebih besar daripada manfaatnya dan akhirnya memunculkan kerusakan yang banyak, tergantung dari seberapa jauh keengganannya melihat taufik dan karunia Allah.

Berangkat dari sinilah Allah memperbaiki perkataan dan perbuatan hamba serta membesarkan hasilnya, ataukah merusaknya dan mencegah hasilnya. Tidak ada yang lebih merusak amal daripada ujub dan membanggakan diri.

Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada diri hamba-Nya, maka Dia memperlihatkan karunia, taufik dan pertolongan-Nya dalam setiap apa pun yang dikatakan dan dikerjakannya, sehingga dia tidak ujub. Kemudian Dia memperlihatkan keterbatasan dirinya, yang seakan-akan dia tidak ridha, lalu dia pun bertaubat dan memohon ampunan serta merasa malu untuk meminta pahala. Jika Allah tidak memperlihatkan taufik dan karunia-Nya, maka dia akan membanggakan amalnya, ujub dan melihatnya dengan penuh keridhaan dan kesempurnaan.

Orang yang berilmu ialah yang melakukan suatu amalan karena Allah, dengan melihat karunia dan taufik Allah pada amal itu, merasa lemah dan malu karena tidak memenuhi hak-Nya. Sedangkan orang yang bodoh ialah yang melakukan suatu amalan karena menurut kehendaknya sendiri, membanggakan diri dan ridha terhadap amalnya. [Syahida.com/ANW]

==

 

Share this post

PinIt
scroll to top