Sungguh Kasihan, Orang yang Berjumpa Orangtuanya Saat Umur Mereka Sudah Menua, tapi Tidak Bisa Membuatnya Masuk Surga

Ilustrasi.

Syahida.com – “Rasulullah saw bersabda, ‘Sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh kasihan.’ Salah seorang sahabatnya bertanya, ‘Siapa yang kasihan, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang sempat berjumpa dengan orangtuanya, kedua-duanya, atau salah seorang di antara keduanya, saat umur mereka sudah menua, namun tidak bisa membuatnya maşuk surga.” (HR. Muslim).

Mencermati perkataan Rasulullah saw di atas, membawa kita pada satu kesimpulan; kitalah yang patut dikasihani saat merawat orangtua kita di usia senjanya, bukan mereka, ayah atau ibu kita. Mengapa? Padahal kondisinya, orangtua sudah tak lagi berdaya dan butuh bantuan dari orang lain untuk merawatnya, bukankah justru mereka yang patut dikasihani?

Namun, sabda Rasulullah ini seakan bisa membaca apa yang banyak terjadi antara anak dan orangtuanya yang sudah lanjut usia. Anak sering kali merasa kewalahan menghadapi tingkah laku orangtua. Akibatnya, keberadaan orangtua dianggap menyusahkan, bahkan membuat anak enggan berinteraksi dengannya karena selalu berakhir dengan kekesalan atau pertengkaran.

Orang seperti itulah yang Rasulullah katakan kasihan, sebab perilakunya terhadap kedua atau salah satu orangtuanya, di masa tua mereka, ternyata tidak membuatnya masuk surga.

Kalau begitu, dalam hal merawat orangtua, siapa yang lebih butuh untuk mendapatkan keutamaannya, kita atau orangtua?

Surga dan naungan berkah

Perintah tersebut disandingkan dengan perintah bertauhid ke pada Allah swt (lihat QS Al-lsra’ [17]: 23). Ini menandakan, berrbakti kepada orangtua adalah sebuah urgensi.

Mereka yang mengaplikasikan kewajiban berbuat baik kepada orangtua, mendapat balasan terbaik, yaitu surga. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw berkata, “Orangtua adalah ‘pintu pertengahan’ menuju surga. Bila engkau mau, silakan engkau pelihara (orangtua). Bila tidak mau, silakan untuk tidak memedulikannya, ” (HR At Tirmidzi). Menurut para ulama, ‘pintu pertengahan’ ini maksudnya pintu terbaik.

Sementara dalam hidupnya di dunia, orang yang memuliakan orangtuanya akan dinaungi keberkahan dari Allah. “Insya Allah, hidupnya berkah, rezekinya berkah, umumya pun berkah.”

Dan yang lebih penting Iagi, ketika seorang anak berbakti kepada kedua orangtuanya, dia akan merasa tenteram. Sebab, kelak anak-anaknya pun akan berbuat hal yang sama kepadanya. Hal itu diungkap Rasulullah dalam hadits, “Berbaktilah kepada kedua orangtuamu, niscaya anak-anakmu kelak akan berbakti kepadamu,” (HR AtTabrani).

Surga dan naungan keberkahan dalam hidup, tak bisa dinikmati oleh mereka yang melakukan hal sebaliknya. Mereka yang memperlakukan orangtua dengan buruk, menyakiti perasaan orangtua, bahkan menganggap orangtua sebagai beban. Bila orangtua tak ridha, maka Allah pun tak meridhainya. Sebab, ridha dan murka Allah, tergantung kepada ridha dan murka orangtua.

Mengutip hadits Rasulullah, bahwa Allah menangguhkan balasan setiap dosa sesuai kehendak-Nya hingga hari kiamat, kecuali durhaka kepada kedua orangtua. Allah percepat balasannya di dunia, ketika orang tersebut masih hidup. “Naudzubillah, ini tentu kerugian besar. Kita sudah diberi ladang pahala oleh Allah untuk berbakti kepada kedua orangtua, tetapi tidak kita maksimalkan. ”

Kewajiban berbakti ini, tetap ada sampai akhir usia kita, bukan akhir usia orangtua. Jadi, kalaupun orangtua sudah tiada, kita masih punya kesempatan berbakti, men-service orangtua. Antara lain, dengan menunaikan wasiatnya, membayar utangutangnya bila ada, berpuasa dan berhaji untuk orangtua.

Masa emas

Wujud bakti anak kepada ayah dan ibunya beragam. Membahagiakan, melayani mereka dengan baik, tidak bersuara keras kepada mereka, menuruti perintah orangtua selama itu tidak melanggar perintah Allah, adalah di antaranya.

Mengatakan ‘ah’ saja kepada orangtua, tidak boleh. Apalagi yang lebih dari itu, seperti berkata kasar, menghardik, atau melawan.

Mungkin kita sudah memahami hal tersebut, tapi terkadang menemui hambatan saat berhadapan dengan orangtua, terlebih di masa tua mereka. Fisik yang lemah, mudah lupa, sangat sensitif, membuat orangtua berlaku seperti anak-anak. Akhimya malah membuat sang anak yang merawatnya merasa gemas bahkan kesal.

Mengalah saja, toh, insya Allah kemauan orangtua tidak melanggar Allah. Apalagi bila kita ingat, di sinilah ladang amal kita. Inilah masa emas kita meraih berkah dan surga yang Allah janjikan. Yaitu dengan merawat orangtua kita di masa tuanya, melalui lisan kita yang baik, perhatian yang kita curahkan, telinga yang kita gunakan untuk menyimak dengan baik keluh kesahnya, dan tangan-tangan kita yang menyentuh lembut kulitnya yang menua.

Laksana meniti perjalanan menuju kampung halaman, perbuatan baik atau wujud bakti kita kepada orangtua adalah langkah-langkah yang akan membawa kita menuju surga, “kampung akhirat” yang paling indah. Allah dan Rasul-Nya sudah memberi tuntunan dan petunjuk, tinggal kita memulainya.[ ]

========

Sumber: Majalah Ummi

Share this post

PinIt
scroll to top