Mengintip Duka Muslim Ethiopia

Ilustrasi. (Foto : islamiclife.com)

Ilustrasi. (Foto : islamiclife.com)

Syahida.com – Inilah negara tua dengan penduduk mayoritas Muslim. Sejak lama Muslim Ethiopia terintimidasi oleh rezim berkuasa yang bekerja sama dengan gereja Ortodoks. Ratusan ribu Muslim Ethiopia telah di murtadkan.

Menyebut nama Ethiopia, seketika berkelebat bayangan tentang bocah kulit hitam. Tubuhnya kurus kerempeng. Kepalanya dirubungi lalat. Persis seperti ditayangkan diberbagai media 20 tahun lalu, saat negeri yang terletak di tanduk Afrika bagian timur ini menggelepar karena lapar dan wabah penyakit yang tersebar.

Seketika juga terkenang lagu Iwan Fals yang menggambarkan derita jutaan rakyat Ethiopia. “Dengar rintihan berjuta kepala waktu lapar menggila. Hamparan manusia tunggu mati, nyawa tak ada arti…menjerit Afrika, mengerang Ethiopia.”

Miskin dan lapar sepertinya begitu identik dengan Ethiopia, yang berpenduduk sekitar 70 juta, atau 66,557,553 jiwa menurut sensus tahun 2003. Angka ini menempatkan Ethiopia sebagai negara berpenduduk terbesar ketiga setelah Nigeria dan Mesir.

Pendapat per kapita (GNP) rata-rata warganya hanya berkisar 90-100 dolar per tahun. Karenanya, sekitar 64 persen rakyat Ethiopia hingga kini hidup dibawah garis kemiskinan. Padahal, negara yang dulunya bernama Abysinia, dalam bahasa Arab disebut Habasyah, merupakan negara tertua di dunia. Ensklopedi Wikipedia, menyebutkan catatan-catatan pertama tentang Ethiopia dibawa oleh para pedagang Mesir sekitar tahun 3000 sebelum Masehi.

Pemerintah model kerajaan berlangsung hingga abad ke-20. Raja terakhir Ethiopia adalah Kaisar Haile Sellasie yang digulingkan rezim militer otoriter komunis pada tahun 1974. Di masa pemerintahan kaisar yang dijuluki “Singa Afrika” ini, Ethiopia membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia.

Negeri ini memiliki luas wilayah 1,14 juta km2 tanpa pantai. Rakyatnya yang sebagian hidup di pedesaan dan bertumpu pada pertanaian, acap menghadapi bencana kelaparan akibat kemarau panjang. Padahal, Ethiopia punya sumber daya alam besar berupa kopi, kulit, ternak, minyak dan sayur-mayur sebagai komoditas ekspor.

Posisi yang penting menjadikan negara ini sebagai titik persimpangan antara peradaban Afrika Utara, Timur Tengah dan Sub-Sahara Afrika. Bahkan, seperti tersebut rapi dalam sejarah, Raja Abyssinia membantu dakwah dengan mengizinkan umat Islam berhijrah ke negaranya. Bahkan Raja Najasyi, penguasa Abysinia masa itu, memeluk Islam.

Tilas Islam masih terasa hingga kini. Mayoritas penduduknya adalah Muslim, laporan rutin Pusat Intelegen Amerika (CIA) tahun 2005 menyebut angka 50 persen. Data lain menyebutkan angka 65 persen dari total 70 juta penduduk. Meski lebih besar, namun secara politis mereka terintimidasi oleh Kristen Ortodoks yang jumlahnya hanya 40 persen. Ini dipelopori oleh gereja Ortodoks Ethiopia (EOC). Minoritas Yahudi yang disebut Febs Mora juga pernah dipaksa memeluk Kristen, seperti dilansir laporan kementrian luar negeri Amerika Serikat tentang kebebasan beragama di dunia, tahun 2003 lalu.

Kebanyakan warga Muslim berasal dari suku Oromo, suku terbesar di Ethiopia yang terdiri dari 200 kabilah. Jumlah populasinya hampir tak tersaingi, kecuali oleh suku Hosa dan Folani di Nigeria Utara. Sebanyak 90 persen suku Oromo, atau sekitar 40 persen dari total warga Ethiopia, adalah Muslim. Mereka terpusat di wilayah selatan yang berbatasan dengan Kenya. Sebagiannya lagi bermukim di Kenya.

Oromo menghasilkan banyak devisa untuk negara, lewat pertanian. Selain sebagai penghasil gula satu-satunya di negara ini, suku Oromo juga menyumbangkan 60 persen kapas dan 70 persen biji kopi dari total produksi negara. Walau demikian, mereka hidup miskin dan terpinggirkan.

Suku Oromo telah memeluk Islam sejak awal. Para ulama datang dari Jazirah Arab. Puncaknya kejayaan Islam terjadi pada abad ke-16, khususnya di Hirar. Wilayah ini menjadi menara peradaban Islam di Ethiopia, bahkan juga di Afrika Timur. Di masa Ahmad Ibrahim Al-Fizan berkuasa, ia berhasil memersatukan sejumlah suku Somalia yang bertetangga dengan sejumlah kabilah Oromo. Kejayaan ini berakhir setelah bangsa Portugis menyerbu Hirar dibawah pimpinan Vasco da Gama (Oromo Jala: Sebuah Riset Analisis, Hasan Makki Ahmad, hlm, 921-971).

Selain Oromo, ada juga suku Ogadin yang sebagiannya kini bermukim di Somalia Barat. Jumlahnya sekitar 10 juta jiwa. Wilayah ini masuk dalam kekuasaan Somalia, setelah Ethiopia berperang melawan dengan dipelopori oleh Partai Persatuan Islam Ogadin. Sejak tahun 1994, gerakan ini berupaya membebaskan wilayah itu dari kekuasaan Ethiopia dan mendirikan negara Islam.

Partai itu memperjuangkan misi bahwa benua Afrika adalah bagian tak terpisahkan dari dunia Arab yang berafiliasi pada budaya Islam. Menurut mereka, Ogadin adalah tanah Arab dan Islam yang dirampas dari Somalia lalu diserahkan oleh Inggris pada Ethiopia, tahun 1948. Tahun yang sama ketika Palestina diserahkan Inggris pada Yahudi Zionis.

Penyerahan itu dilakukan usai Perang Dunia ke-2 sebagai imbalan pada Ethiopia karena ikut memusuhi pemerintah Al-Mahdi di Sudan. Di saat yang sama pula, 11 Agustus 1952, Haile Selasse menandatangani resolusi PBB mengenai penggabungan wilayah Eriteria ke Ethiopia. Baru pada tahun 1993, perjuangan rakyat Eriteria lewat referendum berhasil membuktikan bahwa mayoritas mereka setuju berpisah dengan Ethiopia.

Pada masa Selassie inilah, terjadi pembantaian atas kaum muslimin. Rumah-rumah mereka berikut isinya dibakar dan dihancurkan. Kantong-kantong Muslim ditetapkan sebagai wilayah militer tertutup. Dengan begitu, lembaga donor Islam tak punya akses untuk memberi bantuan. Di saat yang sama, lembaga donor umum dan Kristen diizinkan masuk. Media turut bungkam.

Suku Muslim lainnya ada Ufar. Jumlahnya mencapai 7 juta jiwa. Mereka menuntut berpisah dari Ethiopia dan bergabung dengan suku Ufar di Djibouti. Fakta ini merujuk pada artikel berjudul “Ethiopia: Harapan dan Tantangan” yang dimuat di situs Islam-online.net (301/11/2003).

Wilayah ini memiliki tanah paling subur dan menyumbangkan 5 persen dari total produksi ternak dari benua Afrika. Meski begitu, penduduknya sangat miskin. Tingkat kematian ibu dan anak-anak sangat tinggi, seperti dilaporkan UNICEF, sebuah lembaga yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Intimidasi terhadap umat Islam, yang berasal dari Oromo, Ogadin, dan Ufar terjadi sejak lama. Dimulai terhadap suku Oromo, yang dinilai paling berbahaya bagi kaum Kristen Ortodoks. Sejak masa pemerintahan Kaisar Theodore, kebijakan menghabisi eksistensi suku ini dilakukan. Ini ditempuhkan karena mereka dinilai telah murtad dari Kristen. Mereka dipaksa meninggalkan rumah mereka, jika tidak ingin dibunuh.

Bukti lain terjadi pada masa pemerintah Imperium Kristen Yohanes. Pada tahun 1878, dikeluarkan instruksi yang memaksa umat Islam memeluk Kristen dan loyal pada gereja. Selam tiga tahun, kaum Muslimin diusir dari rumah-rumah mereka, lalu diubah menjadi gereja. Upaya ini bahkan melintasi negeri tetangganya, Sudan , dengan maksud menggoyahkan pemerintahan Al-Mahdi.

Kota Herar yang merupakan simbol kejayaan Islam Ethiopia dihancurkan. Ketika Kaisar Menelik menaklukkan kota ini, tentaranya naik di atas menara masjid besar dan mengencinginya. Masjid itu lalu diubah jadi gereja.

Bukan itu saja, Manelik juga membantai 5000 Muslim Oromo di ruas-ruas jalan kota. Gereja Ortodoks ingin mengubah Afrika menjadi benua Kristen yang membentang dari Sudan dan Danau Victoria hingga wilayah Oromo. Negara-negara Barat memberikan bantuan persenjataan teknologi tinggi. Hasilnya, pada tahun 1897, sebanyak dua pertiga suku Oromo dibantai budak oleh tentara. Tanah kaum Muslimin dirampas dan dibagi-bagi.

Gereja bukan hanya diam, tapi juga menangguk untung dari penjajahan atas tanah Oromo. Tanah dibagi antara milik negara dan gereja. Penduduk asli dipaksa bekerja selama lima hari seminggu untuk suku kristen Amhara. Suku Amhara pun dimigrasikan untuk menempati wilayah suku Oromo yang subur. Persis seperti yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina.

Initmidasi terus berlanjut  di masa Selassie yang memerintah negeri itu selama lima dekade. Ia akhirnya runtuh oleh revolusi nasional pada pertengahan 70-an lalu digantikan oleh Mongstoe yang berhaluan sosialis. Rezim ini setali tiga uang: meneruskan kekuasaan suku Amhara dan menyebarkan Kristen.

Dengan maksud menyatukan agama dan bahasa pengajaran, dipakailah bahasa Amhara di sekolah-sekolah. Kristenisasi di sekolah pun terjadi. Para orangtua muslim menarik anak-anak mereka. Mereka mimilih menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swadaya. Atas keputusan itu, mereka pun diintimidasi.

Setelah itu, Zinawi naik tahta menggantikan Mongsto dan mengalahkan komunis pada tahun 1991. Ia mengurangi tekanan militer, memberikan semacam pemerintah otonomi kepada wilayah. Namun, umat Islam tetap terpinggirkan di segala bidang.

Kaum Muslimin dilarang membangun masjid secara resmi. Pada 2002 lalu, parlemen Oromo pernah meminta pengembalian hak-hak khusus wilayah itu, yang dirampok sejak zaman pemerintahan Mongsto, tapi pemerintah menolak.

Kaum muslimin juga mengeluhkan kebebasan beribadah dan memakai pakaian Muslim di ibukota Addis Ababa dan Amarah. Tak sedikit pejabat yang mencopot jilbab anak-anak mereka untuk menghindari pelecehan. Meski begitu, tekanan terhadap kaum Muslimin di berbagai wilayah terus terjadi, bahkan terhadap Muslim di Somalia yang bermaksud menolong saudara-saudara mereka di Ogadin. Hal itu membuat Zinawi menjadikannya sebagai alasan untuk memerintahkan militernya menyerbu Somalia dengan alasan menyerang Gerakan Persatuan Islam Somalia.

Namun, ini alasan kosong. Sumber-sumber di Somalia menyebutkan, kelompok ini tak pernah ada. Alasan yang sama dipergunakan Ethiopia untuk ikut campur dalam urusan dalam negeri Somalia, khususnya pasca 11 September. Mereka dituduh terkait dengan  jaringan Al-Qaidah. Tapi yang terjadi, pemerintah Ethiopia justru memberikan bantuan militer pada milisi Kristen di Somalia yang berpenduduk Muslim. Perbatasan yang terbuka dan keamanan yang buruk dimanfaatkan. Sejumlah Injil dalam bahasa Somalia juga diterbitkan.

Upaya ini, menurut Direktur Dewan Tinggi untuk Muslim Ethiopia, Syekh Abdurrahman Husein, telah berhasil memurtadkan lebih dari 100 ribu Muslim pada tahun 2002. Data ini mengacu pada artikel berjudul Ethiopia: Muslim Lost Touch with World, dalam situs islamic-population.com. penyebabnya adalah tekanan militer di satu sisi, dan himpitan ekonomi dan sosial di sisi lain. [Syahida.com]

Sumber: Sabili No. 21 Th.XII 5 Mei 2005/26 Rabiul Awal 1426

Share this post

PinIt
scroll to top