Adzab Allah bagi Orang yang Menimbun Emas dan Perak (Harta), tetapi Tidak Ditunaikan Zakatnya

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Syahida.com – 

يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَـٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ

“Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (QS. At-Taubah: 35)

Mereka adalah kelompok ketiga dari para pemimpin/panutan manusia. Sebab manusia (secara tabi’at) membutuhkan kepada ulama, ahli-ahli ibadah dan para pemilik harta. Jika keadaan ketiga kelompok manusia ini rusak, maka rusaklah keadaan manusia (seluruhnya). Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Mubarak

Tidak ada yang lebih merusak agama kecuali raja-raja,

Dan ulama serta ahli-ahli ibadah yang suu’ (bejat).

Adapun tentang kata al-kanz (menimbun), imam Malik telah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Dinar dari Ibnu ‘Umar r.a, bahwa maksudnya adalah harta yang tidak ditunaikan zakatnya. 1 Imam al-Bukhari telah meriwayatkan dari hadits az-Zuhri dari Khalid bin Aslam, ia berkata: “Suatu ketika kami pernah keluar bersama Ibnu ‘Umar, ia berkata: ‘Ini sebelum (ayat) perintah zakat diturunkan. Ketika perintahnya turun, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai pencuci harta.’” 2 Demikian pula yang dikatakan oleh ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dan ‘Irak bin Malik, bahwa ayat ini dinaskh oleh firman Allah Ta’ala:  “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka,” hingga akhir ayat.

Terdapat banyak hadits yang (isinya) memuji (sikap) orang yang menyedikitkan emas dan perak, serta mencela orang yang memperbanyak keduanya. Kami akan sebutkan sebagiannya yang menunjukkan kepada makna hadits-hadits lainnya. ‘Abdurrazaq telah meriwayatkan dari ‘Ali r.a, tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak,” Nabi SAW bersabda:

“Celaka dengan emas, celaka dengan perak.”

Beliau mengulang-ulangnya tiga kali. ‘Ali berkata: “Pernyataan Rasulullah ini membuat para Sahabat resah. Mereka berkata: ‘Lantas harta yang bagaimana yang boleh kita gunakan? Lalu ‘Umar berkata: ‘Aku akan memberitahukan keadaan kalian (kepada Nabi).’ Lalu ia bertanya: ‘Wahai Rasulullah, para Sahabatmu merasa resah dan mereka berkata: ‘Lalu harta yang mana yang boleh kami pergunakan?” Beliau menjawab:

“Lisan yang senantiasa berdzikir, hati yang selalu bersyukur, istri yang membantu salah seorang di antara kalian untuk menjalankan agamanya.” 3

Dan firman-Nya: {يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَـٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ.} “Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” Yakni, akan dikatakan kepada mereka perkataan ini sebagai celaan dan olok-olok, sebagaimana firman-Nya: “Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang-orang yang perkasa lagi mulia.” (QS. Ad-Dukhaan: 48,49). Maksudnya, inilah balasannya, dan inilah yang kalian timbun untuk diri kalian sendiri. Karenanya ada sebuah ungkapan: Siapa yang mencintai sesuatu, dan lebih mengutamakannya dari ketaatan kepada Allah, maka ia akan disiksa dengannya.

Tatkala mereka mengumpul-ngumpulkan harta, dan lebih mereka utamakan daripada apa yang utama di sisi Allah, maka mereka pun diadzab karenanya. Seperti Abu-Lahab -semoga Allah melaknatnya-, ia berusaha keras memusuhi Rasulullah SAW. Isterinya pun turut membantu dalam hal itu, maka di hari Kiamat, sang isteri juga akan turut membantu menyiksanya. (Sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Lahab ayat 5) Artinya, di leher isterinya ada tali dari sabut, yakni yang dikumpulkan dari kayu bakar Neraka dan digunakan untuk menyiksa Abu Lahab. Hal itu supaya adzab Abu Lahab lebih mantap, karena dilakukan oleh orang yang mengasihinya di dunia.

Demikian halnya dengan harta yang (ditimbun ini), tatkala di dunia harta-harta ini merupakan sesuatu paling berharga bagi pemiliknya, maka di akhirat akan menjadi sesuatu yang paling merugikan baginya. Harta tersebut akan dipanaskan di Neraka Jahannam -bisa dibayangkan bagaimana panasnya- lalu digosokkan ke jidat, lambung dan punggung mereka.

Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari Tsauban, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Barangsiapa yang meninggalkan harta timbunan (dengan tidak dikeluarkan zakatnya), maka di hari Kiamat akan dijadikan ular yang botak dan memiliki dua taring, dan akan selalu mengikutinya. Ia akan bertanya: ‘Celaka kamu, siapa engkau?’ Ia menjawab: ‘Aku adalah harta timbunan yang kamu tinggalkan.’ Ia akan senantiasa mengikutinya sampai berhasil menggigit tangannya hingga patah, kemudian diikuti oleh seluruh anggota badannya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahiih-nya dari hadits Yazid (bin Zurai’) dari Sa’ide (bin Abi ‘Arubah). Asal dari hadits ini ada dalam ash-Shahiihain dari Abu Hurairah r.a 4

Terdapat pula dalam Shahiih Muslim dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa pun yang tidak menunaikan zakat hartanya, maka di hari Kiamat nanti (harta itu) akan dijadikan lempengan-lempengan dari api, yang dengannya akan digosokkan ke lambung, dahi dan punggungnya, yaitu pada satu hari yang ukurannya lima puluh ribu tahun, hingga diputuskanlah urusan para hamba, lalu diperlihatkan jalannya, bisa jadi ke Surga ataukah ke Neraka.”5 Hingga akhir hadits.

Mengenai tafsiran ayat ini, imam al-Bukhari telah meriwayatkan dari Zaid bin Wahb, ia berkata: “Aku berjumpa dengan Abu Dzarr di Rabadzah. Lalu aku bertanya kepadanya: ‘Apa yang membuatmu tinggal di tempat ini?’ Ia menjawab: ‘Suatu ketika kami di Syam, lalu aku membaca ayat:

Dan orang-orang yang menyimpan Emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS. 9:34). Lantas Mu’awiyah berkata: ‘Ayat ini tidak ditujukan kepada kita, akan tetapi ayat ini hanya ditujukan kepada ahli Kitab.’ Abu Dzarr berkata: ‘Ayat ini ditujukan kepada kita dan mereka.’” 6 [Syahida.com/ANW]

Catatan Kaki:

1 Al-Muwaththa’ (I/265)

2 Fa-thul Baari (VIII/175) [Al-Bukhari (No. 1404)]

3 ‘Abdurrazzaq (II/263)

4 Ath-Thabari (VI/363), Ibnu Hibban (No. 803), Ibnu Khuzaimah (No. 2255) dan Al-Bukhari (No. 4659)

5 Muslim (II/682) [Muslim (No. 987)]

6 Fa-thul Baari (VIII/173) [Al-Bukhari (No. 4663)]

==

Sumber: Kitab Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 4, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir

Share this post

PinIt
scroll to top