Inilah Tanda-Tanda Lailatul Qadr

Ilustrasi. (Foto: mymodernmet.com)

Ilustrasi. (Foto: mymodernmet.com)

Syahida.com – Penentuan Lailatul Qadr ini ditegaskan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari ‘Ubadah bin ash-Shamit bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Lailatul Qadr itu berada pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Barangsiapa yang beribadah pada malam-malam tersebut karena mengharap kebaikan (pahala)nya, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu, dan dosa-dosanya yang akan datang. Malam tersebut ada pada malam ganjil, yaitu: malam keduapuluh sembilan, atau malam keduapuluh tujuh, atau malam keduapuluh lima, atau malam keduapuluh tiga, atau di malam terakhir.”

Dan Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya tanda Lailatul Qadr itu; bahwa ia adalah malam yang bersih dan terang seolah-olah ada bulan yang bersinar, tenang tenteram, dan cuacanya tidak dingin dan juga tidak panas. Bintang yang digunakan untuk melempar (syaitan) tidak keluar pada malam itu sampai tiba waktu shubuh. Dan sesungguhnya tanda di pagi harinya adalah matahari keluar dengan redup, tanpa sinar yang memancar, lebih mirip rembulan di malam bulan purnama. Dan syaitan tidak bisa keluar bersamanya pada hari itu.”

Abu Dawud telah menuliskan sebuah bab dalam Sunan-nya, ia berkata, ia berkata, “Bab anna Lailatal Qadr fi Kulli Ramadhan.” (Bab yang menjelaskan bahwa Lailatul Qadr itu ada pada setiap bulan Ramadhan). Kemudian dia meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah SAW ditanya tentang malam Lailatul Qadar dan aku mendengar beliau menjawab:

Lailatul Qadr itu ada di setiap bulan Ramadhan.”

Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, “Rasulullah SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan, dan kami pun melakukan i’tikaf bersama beliau. Lalu Malaikat Jibril mendatangi beliau seraya berkata, ‘Sesungguhnya apa yang engkau inginkan itu ada di depanmu.’ Maka beliau meneruskan i’tikaf pada sepuluh hari di pertengahan bulan Ramadhan, dan kami pun melakukan i’tikaf bersama beliau. Lalu Malaikat Jibril mendatangi beliau, seraya berkata, ‘Yang engkau inginkan masih ada di depanmu.’

Kemudian keesokan harinya, tepat pada hari keduapuluh Ramadhan, Nabi SAW berdiri memberikan khutbah. Beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang beri’tikaf bersamaku, maka boleh pulang, karena sesungguhnya aku telah melihat Lailatul Qadr, namun aku lupa kapan tepatnya. Lailatul Qadr itu berada pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Dan sesungguhnya aku bermimpi seolah-olah aku sedang sujud di atas tanah yang basah.’



Ketika itu atap masjid terbuat dari pelepah kurma, sedangkan kami tidak melihat apa-apa di langit. Lalu tiba-tiba datang awan gelap hingga turun hujan. Lalu Nabi SAW melaksanakan shalat bersama kami hingga kami melihat bekas tanah basah di dahi baginda Rasulullah SAW sebagai bukti atas kebenaran mimpi beliau.”

Dalam suatu lafazh hadits disebutkan bahwa peristiwa itu terjadi pada waktu subuh di hari keduapuluh satu bulan Ramadhan. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahiih mereka berdua. Asy-Syaf’i berkata, “Hadits tersebut merupakan riwayat yang paling shahih.”

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Lailatul Qadr itu berada pada malam keduapuluh tiga dari bulan Ramadhan, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Unais dalam Shahiih Muslim.

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Lailatul Qadr itu ada pada malam keduapuluh lima di bulan Ramadhan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Abbas r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Carilah malam Lailatul Qadr itu pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, yaitu pada malam keduapuluh satu, atau pada malam keduapuluh tiga, atau pada malam keduapuluh lima.”

Banyak ulama yang menafsirkannya dengan malam-malam ganjil dan pendapat inilah yang lebih jelas dan lebih populer. Ada juga yang mengatakan bahwa Lailatul Qadr itu ada pada malam keduapuluh tujuh di bulan Ramadhan, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahiih-nya dari Ubay bin Ka’ab dari Rasulullah SAW bahwa Lailatul Qadr itu malam keduapuluh tujuh.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Zirr, “Aku bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, aku berkata, ‘Wahai Abu Mundzir! Sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas’ud berkata, ‘Barangsiapa yang berdiri untuk shalat selama setahun, maka ia mendapatkan malam Lailatul Qadr.’ Ia menjawab, ‘Semoga Allah memberi rahmat kepadanya. Sungguh, ia telah mengetahui bahwa Lailatul Qadr itu berada di bulan Ramadhan, dan itu terjadi pada malam keduapuluh tujuh.’ Kemudian ia bersumpah. Aku bertanya, ‘Bagaimana caranya engkau mengetahui malam qadr tersebut?’ Ia menjawab, ‘Dengan tanda atau ciri-ciri yang telah diberitahukan (oleh Rasulullah) kepada kami, di siang harinya matahari terlihat redup, tidak bersinar. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim.

Ada yang mengatakan bahwa Lailatul Qadr itu ada pada malam keduapuluh tujuh. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari ‘Ubadah bin ash-Shamit, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Lailatul Qadr, maka Rasulullah SAW bersabda,

“Carilah Lailatul Qadr itu pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Sesungguhnya Lailatul Qadr itu ada pada malam-malam ganjil, yaitu malam keduapuluh satu, atau malam keduapuluh tiga, atau malam keduapuluh lima, atau malam keduapuluh tujuh, atau malam keduapuluh sembilan, atau pada malam terakhir.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang malam Qadar ini:

“Sesungguhnya Lailatul Qadr itu malam keduapuluh tujuh atau malam keduapuluh sembilan. Sesungguhnya pada malam itu, para Malaikat yang berada di muka bumi lebih banyak daripada jumlah kerikil.” Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Ahmad sendiri dan sanadnya tidak bermasalah.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Qilabah, bahwa ia berkata, “Lailatul Qadr itu berpindah-pindah pada sepuluh malam terakhir.” [Syahida.com/ANW]

==

Sumber: Kitab Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 9, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir

Share this post

PinIt
scroll to top