Bagaimana Cara Menghadapi Berbagai Fitnah Terhadap Islam? (Bagian 1)

Oleh: Ustd. Nouman Ali Khan

Ilustrasi. (Foto: laurenbooth.org)

Ilustrasi. (Foto: laurenbooth.org)

Syahida.com – Mengapa ada banyak propaganda dan kebencian terhadap Muslim? Bahkan meski propaganda tersebut dibenarkan dengan alasan “jurnalisme” dan dikemas dalam bentuk “kolom editorial”. Sudut pandang (framing) dari media tersebut semakin menarik. Dulunya media hanya membicarakan bahwa Islam yang radikal itu adalah, “Para fanatik ini percaya dengan Islam versi militan yang gila, dimana mereka ingin membunuh semua orang, dan mereka ingin membuang wanita pada tempat sampah, dan lain-lain.”

Tapi sekarang, definisi radikal menjadi lebih luas sehingga jika kamu sholat 5 waktu, maka kamu akan disebut sebagai radikal. Jadi, dulu istilah “radikal” hanya untuk yang benar-benar gila, tapi sekarang, jika kamu menunjukkan Islam, jika kamu terlihat terlalu Muslim, jika kamu mengenakan hijab, maka “Dia pasti Muslim yang radikal.” Jika laki-laki berjenggot, “Dia pasti Muslim yang radikal.” Di Amerika Serikat memang tidak terlalu parah kondisinya. Tapi aku pernah ke Eropa dan bisa kukatakan kondisi di sana cukup parah. Muslim dianggap sangat radikal. Tapi pertanyaannya adalah, mengapa?

Berkaca pada Diri Sendiri

Kita umat Islam punya mentalitas dan pola pikir seperti ini, “Mereka ingin mencelakai kita”, “Orang-orang kafir ini membenci kita”, “Mereka terus membuat kartun yang melawan kami”, “Mereka terus membuat propaganda ini terhadap kami”, “Mereka membenci semua tentang Islam”, “Mereka akan melakukan ini dan itu”… “Mereka.. mereka.. mereka…dan mereka.” Tapi kita tidak punya waktu untuk melihat ke kaca, untuk diri kita sendiri.

Ilustrasi. (Foto: rakooon.com)

Ilustrasi. (Foto: rakooon.com)

Para Nabi juga diolok-olok. Para sahabat juga diolok-olok. “Wa yaskhoruna minalladziina aamanu” dan “mereka mengolok-olok orang-orang yang beriman.” Disebutkan di dalam Al Quran, mereka mengolok-olok orang yang beriman. Orang-orang kafir mengolok-olok orang beriman. Itu disebutkan dalam Al Quran.

“Dan apabila orang-orang kafir itu melihat kamu, mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan): “Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu?” (QS. Al Anbiya’: 36)

Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (`adzab) olok-olokan mereka.” (QS. Al An’am: 10)

“Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tiada seorang nabi pun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Al zukhruf: 6-7)

Tapi pertanyaannya mendasarnya adalah, apakah alasan mengapa mereka (orang-orang terdahulu)  diolok-olok dan alasan mengapa kita diolok-olok hari ini adalah karena hal yang sama? Menurutku tidak sama.

Penyebab muslim terdahulu diolok-olok

Cordoba. (Foto: thestar.com)

Cordoba. (Foto: thestar.com)

Orang-orang terdahulu diolok-olok karena itu adalah merupakan salah satu cara untuk mematikan Islam. Salah satu cara mencegah Islam tersebar karena mereka tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Islam sangat memprovokasi pada pikiran. Islam mengajak kepada keadilan. Islam mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi pada masyarakat tersebut. Dan orang-orang, para pemuda, berbondong-bondong, masuk ke dalam Islam, dan mereka tidak tahu bagaimana menghentikannya. Jadi mereka membuat taktik dengan memanggil Rasulullah SAW pembohong tapi tidak berhasil. Mereka berpikir, “Mungkin kita bisa mengolok-olok orang-orang ini dan tertawakan saja mereka sehingga tidak ada yang menganggap mereka penting.”

Itulah salah satu taktik mereka. Dan saat taktik itu tidak berhasil, mereka membuat taktik lain. Semua taktik ini dibuat untuk menghentikan penyebaran Islam karena Islam pada saat itu terlalu kuat. Dan menurutku, kasusnya tidak sama dengan keadaan kita sekarang.

Penyebab muslim sekarang diolok-olok

Menurutku olok-olokan yang dibuat terhadap Islam sekarang adalah karena penampakan Muslim itu sendiri; seperti telah menjadi apa kita, bagaimana kita membawa diri kita, seperti apa masyarakat kita terlihat, bagaimana jalanan di lingkungan tetangga kita terlihat, bagaimana rumah kita terlihat, seperti apa praktik bisnis kita, bagaimana pemerintahan kita.

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Jika kamu ingin melihat contoh korupsi, jika kamu ingin melihat lawan dari masyarakat yang beradab, maka berkunjunglah ke negara Muslim, demi Allah kebanyakan sulit bagi kita untuk teratur di parkiran masjid. Satu-satunya saat kita teratur adalah saat kita harus teratur di dalam shaf-shaf sholat. Tapi tidak sampai di luar itu. Ini norma dasar manusia yang tidak kita miliki.

Bagaimana dengan peradaban Muslim? Kita sangat suka mengutip sejarah kita. Kita sangat suka mengutip sejarah dimana Muslim berada pada garda terdepan ilmu pengetahuan, saat mereka memimpin universitas-universitas dunia, saat dulu orang-orang dari seluruh dunia datang untuk belajar ilmu di Baghdad, saat orang-orang Eropa telah kehilangan literatur mereka, sedangkan Muslim memilikinya. Mereka harus datang kepada kita untuk mempelajarinya. Saat Spanyol menjadi panutan dunia. Kita suka mengutip hal-hal tersebut. Lalu apa yang mau kamu kutip sekarang? Apa yang telah kita lakukan? Apa yang telah kita hasilkan? Bagaimana kita telah berkontribusi untuk dunia? Satu-satunya saat kita masuk berita adalah saat kita berada di suatu kekacauan atau sejenisnya. Inilah… Lihatlah dari sudut pandang luar!

Dan sebenarnya sekarang aku tidak akan membahas Muslim di seluruh dunia. Untuk sementara ini, mari kita bicarakan tentang Muslim di Barat. Kita datang ke Amerika dan aku sudah berurusan dengan komunitas Muslim di Amerika Serikat untuk beberapa lama. Dan aku sudah berinteraksi dengan komunitas Muslim di Inggris dan Australia. Kuberitahu sesuatu tentang hal-hal yang akan kamu lihat pada Muslim di sana. Subhanallah. Aku kenal pemilik bisnis yang berbohong dalam mengelola pajaknya. “Aku tidak mau membayar kepada orang-orang kafir.” Benarkah? Kamu tidak ingin membayar kepada orang kafir? Padahal kamu sendiri menjual bir. Kamu tidak menunjukkan Islammu saat itu, tapi tiba-tiba wala’ dan bara’mu muncul ketika kamu harus membayar pajak? Ini adalah Muslim. Inilah Kita! Kita punya standar moral yang sangat rendah.

Kita punya pemilik bisnis yang tidak memberikan gaji yang layak. Mereka bahkan tidak memberikan mahar kepada istri mereka. Mereka mengeluhkan ketidakadilan di dunia ini, padahal mereka sendiri tidak punya keadilan di dalam rumah-rumah mereka. Bagaimana orang lain bisa tertarik dengan Islam?

Jangan jadi penyebab orang menjauh dari Islam

Ayat yang ingin kubahas adalah salah satu ayat yang paling mengerikan di dalam Al Qur’an. Adalah tentang umat ini. “Rabbanaa laa taj’alnaa fitnatan lilladziina kafaruu.”  Yang artinya, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami Ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“.(QS. Al Mumtahanah [60] : 5).

Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah, jangan jadikan kamu sesuatu yang menyulitkan bagi orang-orang yang tidak beriman.”

Salah satu makna ayat tersebut, “Ya Allah jangan jadikan kami sangat buruk dan menjadi umat memalukan yang sangat jauh dari ajaran Islam yang sangat indah”, sehingga saat nonmuslim melihat kita, mereka berkata, “Untuk apa aku mau berurusan dengan Islam?” “Untuk apa aku menjadi orang Islam?” “Kamu ingin menjadi seperti orang-orang ini?”

Saat mereka menghina kita, hal itu tidak bisa dibilang sebagai sesuatu yang benar. Tapi kita juga tidak benar jika kita tidak mau melihat ke kaca. Kita salah. Kita harus mulai melihat ke kaca. Kita harus menyelesaikan masalah ini. Ini saatnya untuk berhenti mengeluhkan apa yang dunia sedang lakukan untuk melawan kita. Kita adalah orang-orang, “Laa ilaaha ilallah.” Kita punya Allah ‘Azza wa Jalla di sisi kita. Pertolongan-Nya lebih besar daripada masalah apapun. Tidak ada masalah yang terlalu besar untuk diatasi ketika kamu punya Allah di sisimu. Masalahnya adalah, kita tidak mau pertolongan Allah. Atau paling tidak, kita tak peduli cara mendapatkannya. Pertolongan Allah tidak datang dengan gratis, tetapi harus dicari. Harus terjadi perubahan di dalam rumahku, di dalam keluargaku, dalam kehidupan bertetanggaku. Kita sudah kehilangan moral kita. Dan yang kumaksud bukan pengetahuan tinggi tentang agama, fiqh, dan syariah. Tapi aku membicarakan moralitas dasar. Moralitas yang sangat dasar.

Ilustrasi. (Foto: skanaa.com)

Ilustrasi. (Foto: skanaa.com)

Kita punya masjid-masjid di Amerika Serikat dan seluruh dunia yang mengadakan penggalangan dana. Dan mereka mengumpulkan uang. Dan ketika uang itu terkumpul, mereka berkata, “Kita harus memakai uang ini untuk hal ini dan itu.” Padahal kamu bilang menggalang dana untuk proyek ini, tapi sekarang kamu menggunakannya untuk yang lain, dan kamu mengatakan, “Tidak apa-apa, kami punya fatwa tentang itu.” Apa? Kamu punya fatwa untuk tidak jujur? Kamu dapat dari mana? “Tidak apa-apa, kita boleh melakukannya.” Kita bisa berbohong bahkan atas nama agama? Subhanallah… Bagaimana bisa? Bagaimana bisa sampai pada kesimpulan seperti itu?

Bagaimana kamu bisa sampai titik dimana kamu harus berdebat di rumahmu, “Ayah, ini serius, menurutku kita harus membayar zakat.” Dan sang ayah berkata, “Tidak, tidak apa-apa kita tidak membayar zakat.” Terdapat perdebatan di keluarga Muslim tentang apakah mereka harus membayar zakat atau tidak. Ini terjadi di dalam keluarga Muslim.

Lalu bagaimana pertolongan Allah datang ke orang-orang seperti itu? Yang telah diberikan agama paling indah, ajaran paling sempurna. Bahkan mereka tidak melihat ke kaca semenit saja, atau sehari, dan tanyakan, “Apa kesalahanku?” [Syahida.com/ANW]

==

Bersambung ke bagian 2 

==

Sumber: Ustd. Nouman Ali Khan, Bayyinah

Share this post

PinIt
scroll to top